Pengertian Model Pegambilan Keputusan
Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang bersifat
penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu
sendiri merupakan suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan model
secara cepat dan benar.
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain
sebagai berikut:
·
Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat
tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan
dipecahkan diselesaikan itu.
·
Untuk memperjelas (secara eksplisit) mengenai
hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu.
·
Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat
hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk
matematika.
·
Untuk memberikan pengelolaan terhadap
pengambilan keputusan.
Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau
system yang kompleks. Jadi dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu
dapat disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan
memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan model dapat memberikan kerangka
pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
Tipe-Tipe Proses Pengambilan Keputusan
Para
ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap, meliputi:
1.
Pengenalan masalah
Proses
pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu
oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan
memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu.
Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat
roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.
2.
Pencarian informasi
Konsumen
yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih
banyak. Sumber informasi konsumen yaitu:
·
Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga dan
kenalan.
·
Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen,
kemasan dan penjualan.
·
Sumber publik: media massa dan organisasi
penilai konsumen.
·
Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan dan
menggunakan produk.
3.
Evaluasi alternatif
Konsumen
memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut
manfaat yang mereka cari. Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk
citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif
dan ingatan selektif.
4.
Keputusan pembelian
Dalam
tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di
dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat
diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor
penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat
lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok,
keputusan kuantitas, keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran.
5.
Perilaku pasca pembelian.
Para
pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan
pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen
melakukan pembelian ulang.
Faktor – Faktor yang mempengaruhi
pemecahan masalah
Seperti perilaku manusia
yang lain, pemecahan masalah dipengaruhi faktor-faktor situasional dan
personal. Faktor-faktor situasional terjadi, misalnya pada stimulus yang
menimbulkan masalah pada sifat-sifat masalah (sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang
penting, melibatkan sedikit atau banyak masalah lain). Kita tidak mengulas
faktor-faktor situasional secara terperinci.
Beberapa
penelitian telah membuktikan pengaruh faktor-faktor biologis dan
sosiopsikologis terhadap proses pemecahan masalah. Simpanse yang terlalu lapar
tidak mampu memecahkan masalah kohler di atas. Simpanse yang setengah lapar,
memecahkan masalah dengan cepat. Manusia yang kurang tidur mengalami penurunan
kemampuan berpikir, begitu pula bila ia terlalu lelah. Ini faktor biologis. Sama
pentingnya juga adalah faktor-faktor sosiopsikologis. Contoh-contohnya bisa
dilihat di bawah ini.
1.
Motivasi
Motivasi
yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi
fleksibilitas. Anak yang terlalu bersemangat untuk melihat hadiah ulang tahun,
sering tidak dapat membuka pita bingkisan. Ratusan orang berdesak-desakan
mencari jalan keluar, dan mati terinjak di night-club yang terbakar. Karena
terlalu tegang menghadapi ujian, kita tidak sanggup menjawab pertanyaan pada
tes.
2.
Kepercayaan dan sikap yang salah
Asumsi
yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat
diperoleh dengan kekayaan material, kita akan mengalamikesulitan ketika
memecahkan penderitaan batin kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat,
menghambat efektifitas pemecahan masalah. Sikap yang defensif, misalnya :
Karena kurang kepercayaan pada diri sendiri, akan cenderung menolak informasi
baru, merasionalisasikan kekeliruan, dan mempersukar penyelesaian.
3.
Kebiasaan
Kecenderungan
untuk mempertahankan pola berpikir tertentu, atau melihat masalah hanya dari
satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat
otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efisien. Ini menimbulkan kejumudan
pikiran (rigid mental set). Lawan dari ini adalah kekenyalan pikiran (flexible
mental set). Cara berpikir yang ditandai oleh semacam kekurang hormatan pada
jawaban-jawaban lama, aturan yang mapan, atau prinsip-prinsip yang sudah
diterima
4.
Emosi
Dalam
menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional.
Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah dapat berpikir yang
betul-betul objektif. Sebagaimanusia yang utuh, kita tidak dapat
mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila
emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga
menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.
“Takut
mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang
melumpuhkan tindakan, dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat
masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan pemecahan.”(Colemen,
1974;447).
Semuanya
tidak dipandang sebagai otoritas yang final dan mutlak, melainkan diterima
sebagai generalisasi yang kini berguna, tetapi satu saat mungkin dibuang
atau direvisi jika observasi yang baru gagal medukung generalisasi
tersebut.(Berrien. 1951;45)
Kebudayaan benyak menentukan kejumudan pikiran. Cara kita memandang dan megatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting kita. Tidak jarang cara itu kita pandang sebagai cara yang paling baik.
Kebudayaan benyak menentukan kejumudan pikiran. Cara kita memandang dan megatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting kita. Tidak jarang cara itu kita pandang sebagai cara yang paling baik.
Pembelian
A.
Proses pengambilan keputusan pembelian
Sebelum
dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah
proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:
Pengenalan
masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk
sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya
pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang
akan dibeli.
Pencarian
informasi (information source). Setelah memahami masalah yang ada,
konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian
informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan
berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).
Mengevaluasi
alternatif (alternative evaluation). Setelah konsumen mendapat
berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang
ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
Keputusan
pembelian (purchase decision). Setelah konsumen mengevaluasi beberapa
alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan
pembelian.Terkadang waktuyang dibutuhkan antara membuat keputusan
pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama
dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.
Evaluasi
pasca-pembelian (post-purchase evaluation) merupakan proses evaluasi yang
dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan
pembelian Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan
melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai
dengan harapannya.Dalam hal ini,
terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumenKonsumen akan
puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan
meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut pada
masa depan.Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut
tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen
pada masa depan.
B.
Faktor-faktor yang memengaruhi
Terdapat
4 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
·
Motivasi (motivation) merupakan
suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai
tujuan tertentu.
·
Persepsi (perception) merupakan hasil
pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang
diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap
rangsangan tersebut.
·
Pembentukan sikap (attitude formation)
merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang
mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
·
Integrasi (integration) merupakan
kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas
sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan
perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk
tersebut.
C.
Diagnosa Perilaku Konsumen
Pemahaman
akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal,yaitu
1. untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan
saat yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.
2.perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan
publik.Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan
transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket
transportasi di hari raya tersebut.
3.pemasaran sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen.
1. untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan
saat yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.
2.perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan
publik.Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan
transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket
transportasi di hari raya tersebut.
3.pemasaran sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen.
Dengan
memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan
ide dengan lebih cepat dan efektif.
Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti
perilaku konsumen.
1)
Pendekatan pertama adalah pendekatan
interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal
yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus
group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen
dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.
2)
Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional
yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan
behaviorial serta dari ilmu sosiologi.Pendekatan ini bertujuan mengembangkan
teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen.
Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan
mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi,
membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
3)
Pendekatan ketiga disebut sebagai sains
marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika.
Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika
untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan perilaku
konsumen.
Ketiga
pendekatan sama-sama memiliki nilai dan memberikan pemahaman atas perilaku
konsumen serta strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis
yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh
pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.
Pendekatan
ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika
berdasarkan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow untuk memprediksi
pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi, yang dikenal
dengan sebutanmoving rate analysis. Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai
dan tinggi dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen dan strategi
marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah
perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan,
tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut
SUMBER :
M.
Iqbal Ansam, Teori Pengambilan Keputusan
Darnius,
Open, 2004 Pemakaian Peluang Dalam Membuat Keputusan,Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Budiarto, Teguh (1993). Seri Diktat Kuliah : Dasar Pemasaran. Jakarta : Universitas Gunadarma.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar