Minggu, 12 Oktober 2014

Artikel Softskill V

CT: Saya Ingin Ada Steve Jobs dan Mark Zuckerberg dari Indonesia

Zulfi Suhendra - detikfinance
Sabtu, 11/10/2014 18:11 WIB

//images.detik.com/content/2014/10/11/4/ct03.jpgJakarta -Saat melakukan kunjungan kerja ke Sibloga, Sumatera Utara, Menko Perekonomian Chairul Tanjung sempat menyambangi ratusan siswa di sebuah sekolah menengah atas (SMA) negeri.

Dalam kunjungannya ke SMA tersebut, pria yang akrab disapa CT ini memberikan pengarahan kepada ratusan siswa siswi yang hadir. CT ingin generasi muda Indonesia sukses.

"Anda harus bersyukur karena sudah bisa mengenyam pendidikan di SMA pribadi. Masa depan anda tergantung dari diri anda sendiri. Kesuksesan itu hak semua orang, betul? Percaya? Itu tergantung, apakah dia akan membuat dirinya sukses, atau tidak," kata Chairul di depan ratusan siswa-siswi SMA 1 Matauli Pandan, Sibolga, Sumatera Utara, Sabtu (11/10/2014).

CT berharap, ada generasi penerus yang bisa memajukan ekonomi Indonesia jauh lebih tinggi lagi. Dia menggambarkan di Amerika Serikat (AS), ada tiga tokoh yang bisa menggerakan perekonomian negara itu. Mereka adalah Steve Jobs, Mantan CEO Apple; Pendiri Facebook Mark Zuckerberg; dan Pendiri Twitter, Jack Dorsey.

"Saya bermimpi akan ada Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan Jack Dorsey Indonesia, akan bisa membawa Indonesia tumbuh. Itu berasal dari anak-anak muda dan berasal dari SMA 1 Matauli. Jangan sia-siakan kesempatan menjadi maju," impian CT.

CT juga berpesan kepada siswa-siswi di sekolah yang didirikan Alm. Faisal Tanjung dan Akbar Tanjung itu, untuk menjadi orang pintar dan beruntung.

"Jadilah orang yang beruntung. Cari bagaimana caranya, salah satunya ada. Itu ada spanduk, ibu adalah kunci sukses. Hormati orang tuamu, ibumu, ibu, dan ibu, baru bapakmu. Itu baru satu resep untuk jadi orang beruntung," tuturnya.

SUMBER :
www.finance.detik.com

Tugas Softskill V

Sumber Daya Konsumen dan Pengetahuan
Sumber Daya Konsumen
Sumber daya konsumen adalah segala sumber daya yang mempengaruhi konsumen untuk membeli barang atau jasa. Sumber daya konsumen ada 3 macam, yaitu : 
·         Sumber daya ekonomi adalah segala sesuatu sumber daya yang dimiliki baik yang tergolong sumber daya alam maupun potensi sumber daya manusia yang dapat memberikan manfaat. 
·         Sumber daya sementara adalah sumber daya yang bisa menghemat waktu, keinginan manusia ingin membeli barang dan jasa yang tujuananya menghemat waktu yang ada.
·         Sumber daya kognitif adalah sumber daya perencanaan dan pengambilan keputusan seorang konsumen terhadap apa yang ingin di belinya.
Pengetahuan
Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Dalam hal ini pengetahuan konsumen amat diperlukan. Karena, hal ini dapat mempengaruhi keputusan konsumen dalam melakukan pembelian. Apa yang dibeli, berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan. Pengetahuan Konsumen terbagi kedalam tiga macam, yaitu Pengetahuan Produk, Pengetahuan Pembelian, Pengetahuan Pemakaian.
a)      Pengetahuan Produk
Adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk. Pengetahuan ini meliputi kategori produk, merek terminologi produk atribut atau fitur, harga produk dan kepercayaan mengenai produk.  Jenis Pengetahuan Produk :
·         Pengetahuan tentang karakteristik/atribut produk
Seorang Konsumen akan melihat suatu produk berdasarkan kepada karakteristik atau ciri atau atribut dari produk tersebut. Setiap konsumen mungkin memiliki kemampuan yang berbeda dalam menyebutkan karakteristik  atau atribut dari suatu produk. Hal ini disebabkan perbedaan pengetahuan yang dimilikinya. Pengetahuan mengenai atribut tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Pengetahuan yang lebih banyak akan memudahkan konsumen dalam memilih produk yang akan dibelinya.
·         Pengetahuan Manfaat Produk
Seorang Konsumen mengkonsumsi gula rendah kalori  karena mengetahui manfaat produk tersebut bagi kesehatan tubuhnya. Manfaat yang dirasakan konsumen. Setelah mengkonsumsi gula rendah kalori yaitu dapat menghindari penyakit diabetes. Inilah yang disebut sebagai pengetahuan tentang manfaat produk.
b)      Pengetahuan Pembelian
Terdiri atas pengetahuan tentang toko, lokasi produk di dalam toko dan penempatan produk yang sebenarnya di dalam toko tersebut. Pengetahuan Konsumen cenderung lebih senang mengunjungi toko yang sudah dikenalnya untuk berbelanja, karena telah mengetahui dimana letak produk di dalam toko tersebut. Hal ini akan memudahkan konsumen untuk berbelanja atau melakukan pembelian. Hal ini akan memudahkan konsumen untuk berbelanja karena konsumen bisa menghemat waktu dalam mencari lokasi produk. Menurut Petter dan Olson(1999), perilaku membeli meliputi store contact, product contact, dan Transaction.
·         Store contact meliputi tindakan mencari outlet, pergi ke outlet dan memasuki outlet.
·         Product contact, konsumen akan mencari lokasi produk, mengambil produk tsb dan membawanya ke kasir
·         Transaction, konsumen akan membayar produk tersebut  dengan tunai, kartu kredit, kartu debet atau alat pembayaran lainnya.

c)       Pengetahuan Pemakaian
Yaitu suatu produk akan memberikan manfaat kepada konsumen jika produk tersebut  telah digunakan/ dikonsumsi. Agar produk tersebut bisa memberikan manfaat yang maksimal dan kepuasan yg tinggi, maka konsumen harus bisa menggunakan/ mengkonsumsi produk tersebut dengan benar. Produsen berkewajiban untuk memberikan informasi yang cukup agar konsumen mengetahui cara pemakaian suatu produk. Pengetahuan pemakaian suatu produk adalah penting bagi konsumen.

Sumber Daya Konsumen Ekonomi
Uang adalah alat transaksi yang sangat diperlukan oleh konsumen untuk membeli produk. Keputusan Konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat  dipengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi misalnya uang. Tanpa uang konsumen tidak bisa membeli apapun.  Pembelian sangat dipengaruhi oleh pendapatan konsumen sama halnya dengan, harapan konsumen mengenai pendapatan masa datang menjadi variabel penting dalam meramalkan perilaku konsumen.
Potensi sumberdaya ekonomi atau lebih dikenal dengan potensi ekonomi pada dasarnya dapat diartikan sebagai sesuatu atau segala sesuatu sumberdaya yang dimiliki baik yang tergolong pada sumberdaya alam (natural resources/endowment factors) maupun potensi sumberdaya manusia yang dapat memberikan manfaat (benefit) serta dapat digunakan sebagai modal dasar pembangunan (ekonomi) wilayah tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya secara structural harus bisa dialihkan pada sumberdaya alam lain. Misalnya, penggunaan energy sinar matahari, panas bumi, atau gelombang laut termasuk angin, akan dapat mengurangi ketergantungan manusia terhadap sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui.
Sumber Daya Sementara
·         Barang yang Menggunakan Waktu 
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dalam mengkonsumsinya. Contoh: menonton TV, memancing, golf, tennis (waktu Senggang) tidur, perawatan pribadi, pulang pergi (waktu wajib)
·         Barang Penghemat Waktu.
Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: oven microwave, pemotong rumput, fast food.
Sumber Daya Kognitif
Sumberdaya Kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi Alokasi Kapasitas Kognitif dikenal sebagai perhatian (attention). Perhatian terdiri dari dua dimensi:
·               Arahan (direction) menggambarkan fokus perhatian
·               Intensitas mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Karena kapasitas tersebut terbatas, orang harus selektif dalam apa yang mereka perhatikan dan berapa banyak perhatian dialokasikan selama pengolahan informasi.

Pengertian sumber daya kognitif adalah kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya skema tentang bagaimana seseorang mempersepsikan lingkungannya dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme.
Kandungan Pengetahuan
Kajian Myke mendefinisikan kandungan pengetahuan sebagai “jumlah keupayaan sumber tenaga manusia, asset dan pengamalan kepimpinan, modal teknologi dan maklumat, hubungan kerjasama, harga intelek, stok maklumat serta kebolehan untuk berkongsi pembelajaran dan penggunaan, yang boleh digunakan untuk menjaga kekayaan dan meningkatkan daya saing ekonomi.
Organisasi Pengetahuan
Pengetahuan Konsumen akan mempengaruhi Keputusan Pembelian. Apa yang dibeli,berapa banyak yang dibeli, dimana membeli dan kapan membeli akan tergantung kepada pengetahuan konsumen mengenai hal-hal tersebut. Pengetahuan Konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk, serta pengetahuan lainnya yang terkait dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.
1.       Pengetahuan tentang karakteristik /atribut produk
2.       Pengetahuan tentang manfaat produk
3.       Pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk kepada konsumen

Mengukur Pengetahuan
Cara yang paling nyata dalam mengukur kemampuan pengetahuan adalah menilai secara langsung isi ingatan. Beberapa indikator pengukur pengetahuan antara lain
1.       Pengetahuan Objektif (Objective Knowledge)
Pengukuran yang menyadap apa yang benar-benar sudah disimpan oleh konsumen di dalam ingatan
2.       Pengetahuan Subjektif (Subjective Knowledge)
Dipengaruhi oleh kepercayaan diri seseorang yaitu bahwa orang yang percaya diri mungkin melaporkan secara berlebihan tingkat pengetahuan mereka (Engel, Blackwell & Miniard, 1994, p.331-332)



SUMBER :
www.wattpad.com/4248708-pengertian-perilaku-konsumen-sumber-day


Artikel Softskill IV

Saat Anak Bertanya 'Apa Itu Pacaran', Begini Sebaiknya Jawaban Orang Tua
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth
Sabtu, 11/10/2014 16:04 WIB
Ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta, Saat pergi ke tempat umum, tak jarang terlihat pemandangan pasangan sedang bermesraan. Bahkan saat ini, tak sedikit anak-anak yang kerap mendengar istilah pacaran. Lalu, bagaimana sebaiknya orang tua menanggapi?


"Kenalkan pada anak bahwa pacaran adalan proses berkenalan sebelum seseorang akan menikah. Sehingga terbentuk konsep di pikiran anak bahwa pacaran adalah sesuatu yang serius," tutur psikolog Ajeng Raviando.


Ditemui usai Grand Launching 'One Stop Shopping for Mom and Baby' di Transmart Carrefour Super Center, Cikokol, Tangerang, seperti ditulis pada Sabtu (11/10/2014), nantinya anak bisa tidak menganggap pacaran adalah main-main.


Mengenalkan konsep seperti itu pada anak menurut ajeng termasuk dalam pendidikan seks usia dini bagi anak. Sehingga, anak bisa tahu bahwa pacaran baru boleh dilakukan sebelum ia memutuskan untuk menikah. Saat anak bertanya lebih lanjut soal menikah, orang tua bisa menjadi contoh langsung.

"Menikah adalah salah satu bentuk kasih sayang antara mama dan papa. Setelah menikah saat tiba waktunya nanti kita boleh kok memeluk, mencium pipi atau kening seperti yang mama dan papa lakukan," imbuh Ajeng.

Dengan begitu, anak nantinya tidak akan sembarangan jika ada yang merangkul, mencium, atau menyentuhnya. Pengetahuan seperti ini secara tidak langsung menjadi 'pertahanan' bagi anak dari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya pelecehan seksual.

Jika anak membicarakan soal pacaran terus menerus, orang tua perlu bertanya bagaimana pemahaman anak tentang pacaran dan sampai sejauh mana. Jika ada yang keliru, baru beri penjelasan sebenarnya dengan bahasa yang disesuaikan dengan usia anak.

"Kalau kita kepepet bingung mau jawab apa, minta anak untuk menunggu karena ayah atau ibu belum bisa jawab sekarang tapi berjanjilah kalau Anda akan cari tahu. Saat sudah dapat jawaba, tetap terangkan pada anak. Jangan anggap dia udah lupa lantas dibiarin aja. Justru dengan begitu anak makin percaya dan terbuka dengan orang tua," papar Ajeng.

SUMBER :

www.health.detik.com

Tugas Softskill IV

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian
Sebelum membeli suatu produk atau jasa, umumnya konsumen melakukan evaluasi untuk melakukan pemilihan produk atau jasa. Evaluasi dan pemilihan yang digunakan akan menghasilkan suatu keputusan. Pengambilan keputusan sendiri merupakan sebuah proses yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif sebelum pembelian, pembelian, konsumsi, dan evaluasi alternatif sesudah pembelian (Engel,1995). Selanjutnya akan dijelaskan mengenai proses pengambilan keputusan membeli yang meliputi pengertian proses pengambilan keputusan membeli, tahap-tahap dalam proses pengambilan keputusan membeli, tingkatan dalam proses pengambilan keputusan membeli serta faktor apa saja yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan membeli.
Konsumen adalah bagian terpenting dalam target pasar suatu perusahaan. Konsumen yang konsumtif juga merupakan sasaran utama para peserta pasar dan perusahaan. Tetapi, kadang konsumen kurang berhati- hati dalam melakukan pembelian sehinggam menimbulkan kerugian sepihak. Maka dari itu, harus dilakukan evaluasi alternatif yang dilakukan oleh konsumen sebelum mengambil keputusan untuk membeli.
Adapun pertimbangan yang dilakukan konsumen sebagai berikut :
1.       Produk yang murah – Produk yang mahal, tingkat ekonomi suatu negara mempengaruhi konsumen untuk megkonsumsi barang- barang yang harganya relatif murah. Hanya beberapa persen penduduk yang berani mengkonsumsi suatu produk atau jasa dengan harga yang mahal. Selebihnya, berpikir 3 sampai 4 kali untuk membelinya.
2.       Pembelian yang sering – Pembelian yang jarang, barang atau jasa yang sering dibeli.
3.       Merek yang biasa - merek yang terkenal.
Analisis pengambilan keputusan oleh konsumen
1.       Sudut pandang ekonomis, konsumen sebagai orang yang membuat keputusan secara rasional harus mengetahui semua kelemahan dan kekuatan produk atau jasa yang dibelinya serta mempertimbangkan kegunaannya untuk jangka pendek, menengah dan panjang.
2.       Sudut pandang kognitif, konsumen merupakan pengelolah informasi yang selalu mencari tahu apa saja tentang produk dan jasa yang dibutuhkan. Pengelola informasi selalu berujung pada pilihan unutk membeli atau menolak produk tersebut.
3.       Sudut pandang emosional, konsumen yang memiliki sifat cenderung mengkoleksi atau emmfavoritkan suatu barang atau jasa dan akan melakukan apa pun demi mendapatkannya termasuk dalam golongan ini, sehingga anggapan emotional man itu tidak rasional adalah tidak benar. Tetapi, bila sudah mendapatkan produk yang membuat perasaan mereka lebih baik, maka keputusan yag mereka ambil merupakan keputusan rasional. 
Dalam perilaku konsumen, evaluasi alternatif sebelum pembelian itu sangat perlu, karena yang namanya membeli kitapun sebagai konsumen juga harus teliti betul dengan barang yang ingin kita beli. Karena tekadang, meskipun barang yang dipasarkan bagus pasti terkadang ada cacatnya. Kemudian yang kedua hal yang biasa terjadi itu harganya, yang sebenarnya harga tersebut aslinya sangat murah, tetapi jika kita tidak teliti dan pintar-pintar dalam membeli kita juga akan tertipu dengan penjualan yang harganya cukup mahal. Kemudian dari segi kualitasnya, terkadang harga mahal tidak menjamin bahwa barang tersebut merupakan barang yang bagus, sama saja tas mahal dengan kulit sapi atau kulit lainnya, apabila tidak dirawat lama-kelamaan pasti kulit tersebut akan mengelupas dengan sendirinya. Dan malahan terkadang tas dengan harga urah malah justru barangnya lebih bagus dibandingkan dengan tas yang harganya lebih mahal.
Lalu dari segi keterkenalan barang tersebut, terkadang barang yang tidak terkenal bisa disebut sebagai barang yang tidak laku, atau bisa jadi barang tersebut memang tidak banyak peminatnya atau bisa jadi barang tersebut memang limited edition (satu-satunya). Pasti barang yang namanya sarang satu-satunya biasanya dijual di toko-toko tertentu dan memang sengaja diproduksi hanya satu barang itu saja, dan harganyapun juga lumayan mahal, apabila barang itu bagus. Namun lain halnya jika barang yang tidak laku atau tidak banyak peminatnya, itu biasanya barang tersebut tidak bagus atau tidak menarik para konsumen sehingga barang terseut tidak laku terjual. Biasanya jika di mall-mall apabila banyak barang yang cacat sedikit atau tidak laku, biasanya mereka akan mengadakan cuci gudang dengan memberikan diskon, tujuannya agar modal mereka kembali.

Tiga faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen:
·         Konsumen individu, Pilihan merk dipengaruhi oleh kebutuhan konsumen, persepsi atas karakteristik merk dan sikap ke arah pilihan. Sebagai tambahan, pilihan merk dipengaruhi oleh demografi konsumen, gaya hidup dan karakteristik personalia.
·         Pengaruh lingkungan, Lingkungan pembelian konsumen ditunjukkan oleh budaya (norma kemasyarakatan, pengaruh kedaerahan atau kesukuan), kelas sosial, teman, anggota eluarga dan faktor yang menentukan situasional.
·         Marketing strategy, Pemasaran yang baik adalah pemasaran yangmempunyai banyak data atau informasi dari konsumen untuk evaluasi dalam proses pengambilan keputsan, sehingga pangsa pasar dapat tepat sasaran.

Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan. Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya dalam membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria keselamatan, kenyamanan, harga, merek, Negara asal(country of origin) dan juga aspekhedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya.
Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1.       Harga
Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murahuntuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
2.       Nama Merek
Merek terbukti menjadi determinan penting dalam pembelian obat. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian.
3.       Negara Asal
Negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen. negara asal sering mencitrakan kualitas produk. Konsumen mungkin sudah tidak meraguakan lagi kualitas produk elektronik dari Jepan. Sementara, untuk jam tangan nampaknya jam tangan buatan Swiss meruapak produk yang handal tak teragukan.
4.       Saliensi ( Atribut yang mencolok)
Konsep saliensi mencerminkan ide bahwa kriteria evaluasi kerap berbeda pengaruhnya untuk konsumen yang berbeda dan juga produk yang berbeda. Pada suatu produk mungkin seorang konsumen mempertimbangkan bahwa harga adalah hal yang penting, tetapi tidak untuk produk yang lain. Atribut yang mencolok (salient) yang benar-benar mempengaruhi proses evaluasi disebut sebagai atribut determinan.
Empat Tipe Proses Pembelian Konsumen
1)      Proses Complex Decision Making
Terjadi bila keterlibatan kepentingan tinggi pada pengambilan keputusan yang terjadi. Contoh pengambilan untuk membeli sistem fotografi elektronik seperti Mavica atau keputusan untuk membeli mobil. Dalam kasus seperti ini, konsumen secara aktif mencari informasi untuk mengevaluasi dan mempertimbangkan pilihan beberapa merek dengan menetapkan kriteria tertentu seperti kemudahan dibawa dan resolusi untuk sistem kamera elektronik, dan untuk mobil adalah hemat, daya tahan tinggi, dan peralatan. Subjek pengambilan keputusan yang komplek adalah sangat penting. Konsep perilaku kunci seperti persepsi, sikap, dan pencarian informasi yang relevan untuk pengembangan stratergi pemasaran.
2)      Proses Brand Loyalty
Ketika pilihan berulang, konsumen belajar dari pengalaman masa lalu dan membeli merek yang memberikan kepuasan dengan sedikit atau tidak ada proses pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Contoh pembelian sepatu karet basket merek Nike atau sereal Kellogg,s Nutrific. Dalam setiap kasus disini pembelian adalah penting untuk konsumen, sepatu basket karena keterlibatan kepentingan dalam olah raga, makanan sereal untuk orang dewasa karena kebutuhan nutrisi. Loyalitas merek muncul dari kepuasan pembelian yang lalu. Sehingga, pencarian informasi dan evaluasi merek terbatas atau tidak penting keberadaannya dalam konsumen memutuskan membeli merek yang sama.Dua tipe yang lain dari proses pembelian konsumen dimana konsumen tidak terlibat atau keterlibatan kepentingan yang rendah dengan barangnya adalah tipe pengambilan keputusan terbatas dan proses inertia.
3)      Proses Limited Decision Making
Konsumen kadang-kadang mengambil keputusan walaupun mereka tidak memiliki keterlibatan kepentingan yang tinggi, mereka hanya memiliki sedikit pengalaman masa lalu dari produk tersebut. Konsumen membeli barang mencoba-coba untuk membandingkan terhadap makanan snack yang biasanya dikonsumsi. Pencarian informasi dan evaluasi terhadap pilihan merek lebih terbatas dibanding pada proses pengambilan keputusan yang komplek. Pengambilan keputusan terbatas juga terjadi ketika konsumen mencari variasi. Kepitusan itu tidak direncanakan, biasanya dilakukan seketika berada dalam toko. Keterlibatan kepentingan yang rendah, konsumen cenderung akan berganti merek apabila sudah bosan mencari variasi lain sebagai perilaku pencari variasi akan melakukan apabila resikonya minimal. Catatan proses pengambilan keputusan adalah lebih kepada kekhasan konsumen daripada kekhasan barang. Karena itu tingkat keterlibatan kepentingan dan pengambilan keputusan tergantung lebih kepada sikap konsumen terhadap produk daripada karakteristik produk itu sendiri. Seorang konsumen mungkin terlibat kepentingan memilih produk makanan sereal dewasa karena nilai nutrisinya, konsumen lain mungkin lebih menekankan kepada kecantikan dan menggeser merek dalam mencari variasi.
4)      Proses Inertia
Tingkat kepentingan dengan barang adalah rendah dan tidak ada pengambilan keputusan. Inertia berarti konsumen membeli merek yang sama bukan karena loyal kepada merek tersebut, tetapi karena tidak ada waktu yang cukup dan ada hambatan untuk mencari alternatif, proses pencarian informasi pasif terhadap evaluasi dan pemilihan merek. Robertson berpendapat bahwa dibawah kondisi keterlibatan kepentingan yang rendah “ kesetiaan merek hanya menggambarkan convenience yang melekat dalam perilaku yang berulang daripada perjanjian untuk membeli merek tersebut” contoh pembelian sayur dan kertas tisu.
Tahap-tahap Dalam Proses Pembelian
·         Menganalisa Keinginan dan Kebutuhan, Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujukan terutama untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan
·         Menilai Sumber-sumber, Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat berkaitan dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli.
·         Menetapkan Tujuan Pembelian, Tahap ketika konsumen memutuskan untuk tujuan apa pembelian dilakukan, yang bergantung pada jenis produk dan kebutuhannya
·         Mengidentifikasikan Alternatif Pembelian, Tahap ketika konsumen mulai mengidentifikasikan berbagai alternatif pembelian
·         Keputusan Membeli, Tahap ketika konsumen mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika dianggap bahwa keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan menjumpai serangkaian keputusan menyangkut jenis produk, bentuk produk, merk, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya
·         Perilaku Sesudah Pembelian, Tahap terakhir yaitu ketika konsumen sudah melakukan pembelian terhadap produk tertentu

SUMBER :


http://www.wattpad.com/4248605-pengertian-perilaku-konsumen-evaluasi-alternatif

Artikel Softskill III

Perayaan Hut TNI ke-69 Meriah, Panglima: Supaya Rakyat Tahu

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Edward/detikcom
Jakarta - Mabes TNI merayakan HUT TNI ke-69 secara meriah di Surabaya pada 7 Oktober 2014. Tak sedikit dana yang dikeluarkan, namun hal itu bertujuan untuk menunjukkan TNI saat ini kepada rakyat Indonesia.

"Alasan HUT TNI ke-69 dirayakan secara meriah karena kami menginginkan rakyat tahu seberapa kuatnya kemampuan TNI. Kalau kita pelit, rakyat tidak akan tahu," ujar Panglima TNI Jenderal Moeldoko dalam acara pemberian penghargaan Panglima TNI Award di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Minggu (12/10/2014).

Menurut Moeldoko, acara memperingati hari jadi itu berbiaya puluhan miliar rupiah. Baginya, dana itu sebagai bentuk laporan kepada rakyat bahwa uang mereka ke negara, khusunya TNI, tidak sia-sia.

"Tentu Mengeluarkan dana besar untuk demonstrasi, sebanyak Rp 20 miliar. Hal ini tentu menjadikan kita untuk jaminan bahwa anggaran yang dikeluarkan besar oleh rakyat kepada TNI tidak sia-sia," ucap Moeldoko.

"Dan sebagai jaminan, sekarang kita memberikan jaminan berupa sebuah inovasi alutsista. Seperi Tank Leopard dan Apache, semua itu tidak sia-sia," tambahnya.

Moeldoko mengatakan, rangkaian acara di Mabes TNI malam ini terlepas dari HUT TNI. Artinya, dana acara malam penghargaan itu dilaksanakan bekerja sama dengan sponsor.

"Khusus kegiatan malam ini, kita galang dana dari sponsor, ikut partisipasi, sehingga tidak gunakan APBN. Terus terang saja, ini untuk kepentingan anak-anak dan cucu kita, sehingga TNI menjadi kekuatan yang tangguh," ungkapnya.


Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

SUMBER :
www.detik.com

Tugas Softskill III

Pengertian Model Pegambilan Keputusan
Model adalah percontohan yang mengandung unsure yang bersifat penyederhanaan untuk dapat ditiru (jika perlu). Pengambilan keputusan itu sendiri merupakan  suatu proses berurutan yang memerlukan penggunaan model secara cepat dan benar.
Pentingnya model dalam suatu pengambilan keputusan, antara lain sebagai berikut:
·         Untuk mengetahui apakah hubungan yang bersifat tunggal dari unsur-unsur itu ada relevansinya terhadap masalah yang akan dipecahkan diselesaikan itu.
·         Untuk memperjelas (secara eksplisit) mengenai hubungan signifikan diantara unsur-unsur itu.
·         Untuk merumuskan hipotesis mengenai hakikat hubungan-hubungan antar variabel. Hubungan ini biasanya dinyatakan dalam bentuk matematika.
·         Untuk memberikan pengelolaan terhadap pengambilan keputusan.
Model merupakan alat penyederhanaan dan penganalisisan situasi atau system yang kompleks. Jadi dengan model, situasi atau sistem yang kompleks itu dapat disederhanakan tanpa menghilangkan hal-hal yang esensial dengan tujuan memudahkan pemahaman. Pembuatan dan penggunaan model dapat memberikan kerangka pengelolaan dalam pengambilan keputusan.
Tipe-Tipe Proses Pengambilan Keputusan
Para ahli telah merumuskan proses pengambilan keputusan model lima tahap, meliputi:
1.       Pengenalan masalah
Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau kebutuhan, yang dipicu oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal misalnya dorongan memenuhi rasa lapar, haus dan seks yang mencapai ambang batas tertentu. Sedangkan rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati toko kue dan melihat roti yang segar dan hangat sehingga terangsang rasa laparnya.
2.       Pencarian informasi
Konsumen yang terangsang kebutuhannya akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Sumber informasi konsumen yaitu:
·         Sumber pribadi: keluarga, teman, tetangga dan kenalan.
·         Sumber komersial: iklan, wiraniaga, agen, kemasan dan penjualan.
·         Sumber publik: media massa dan organisasi penilai konsumen.
·         Sumber pengalaman: penanganan, pemeriksaan dan menggunakan produk.

3.       Evaluasi alternatif
Konsumen memiliki sikap beragam dalam memandang atribut yang relevan dan penting menurut manfaat yang mereka cari. Kumpulan keyakinan atas merek tertentu membentuk citra merek, yang disaring melalui dampak persepsi selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
4.       Keputusan pembelian
Dalam tahap evaluasi, para konsumen membentuk preferensi atas merek-merek yang ada di dalam kumpulan pilihan. Faktor sikap orang lain dan situasi yang tidak dapat diantisipasi yang dapat mengubah niat pembelian termasuk faktor-faktor penghambat pembelian. Dalam melaksanakan niat pembelian, konsumen dapat membuat lima sub-keputusan pembelian, yaitu: keputusan merek, keputusan pemasok, keputusan kuantitas, keputusan waktu dan keputusan metode pembayaran.
5.       Perilaku pasca pembelian.
Para pemasar harus memantau kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian dan pemakaian produk pasca pembelian, yang tujuan utamanya adalah agar konsumen melakukan pembelian ulang.
Faktor – Faktor yang  mempengaruhi pemecahan masalah
Seperti perilaku manusia yang lain, pemecahan masalah dipengaruhi faktor-faktor situasional dan personal. Faktor-faktor situasional terjadi, misalnya pada stimulus yang menimbulkan masalah pada sifat-sifat masalah (sulit-mudah, baru-lama, penting-kurang penting, melibatkan sedikit atau banyak masalah lain). Kita tidak mengulas faktor-faktor situasional secara terperinci.
Beberapa penelitian telah membuktikan pengaruh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis terhadap proses pemecahan masalah. Simpanse yang terlalu lapar tidak mampu memecahkan masalah kohler di atas. Simpanse yang setengah lapar, memecahkan masalah dengan cepat. Manusia yang kurang tidur mengalami penurunan kemampuan berpikir, begitu pula bila ia terlalu lelah. Ini faktor biologis. Sama pentingnya juga adalah faktor-faktor sosiopsikologis. Contoh-contohnya bisa dilihat di bawah ini.
1.       Motivasi
Motivasi yang rendah mengalihkan perhatian. Motivasi yang tinggi membatasi fleksibilitas. Anak yang terlalu bersemangat untuk melihat hadiah ulang tahun, sering tidak dapat membuka pita bingkisan. Ratusan orang berdesak-desakan mencari jalan keluar, dan mati terinjak di night-club yang terbakar. Karena terlalu tegang menghadapi ujian, kita tidak sanggup menjawab pertanyaan pada tes.
2.       Kepercayaan dan sikap yang salah
Asumsi yang salah dapat menyesatkan kita. Bila kita percaya bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan kekayaan material, kita akan mengalamikesulitan ketika memecahkan penderitaan batin kita. Kerangka rujukan yang tidak cermat, menghambat efektifitas pemecahan masalah. Sikap yang defensif, misalnya : Karena kurang kepercayaan pada diri sendiri, akan cenderung menolak informasi baru, merasionalisasikan kekeliruan, dan mempersukar penyelesaian.
3.       Kebiasaan
Kecenderungan untuk mempertahankan pola berpikir tertentu, atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah yang efisien. Ini menimbulkan kejumudan pikiran (rigid mental set). Lawan dari ini adalah kekenyalan pikiran (flexible mental set). Cara berpikir yang ditandai oleh semacam kekurang hormatan pada jawaban-jawaban lama, aturan yang mapan, atau prinsip-prinsip yang sudah diterima
4.       Emosi
Dalam menghadapi berbagai situasi, kita tanpa sadar sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir kita. Kita tidak pernah dapat berpikir yang betul-betul objektif. Sebagaimanusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah kita menjadi sulit berpikir efisien.
“Takut mungkin melebih-lebihkan kesulitan persoalan dan menimbulkan sikap resah yang melumpuhkan tindakan, dan kecemasan sangat membatasi kemampuan kita melihat masalah dengan jelas atau merumuskan kemungkinan pemecahan.”(Colemen, 1974;447).
Semuanya tidak dipandang sebagai otoritas yang final dan mutlak, melainkan diterima sebagai  generalisasi yang kini berguna, tetapi satu saat mungkin dibuang atau direvisi jika observasi yang baru gagal medukung generalisasi tersebut.(Berrien. 1951;45)
Kebudayaan benyak menentukan kejumudan pikiran. Cara kita memandang dan megatasi persoalan dibatasi oleh cultural setting kita. Tidak jarang cara itu kita pandang sebagai cara yang paling baik.
Pembelian
A.      Proses pengambilan keputusan pembelian
Sebelum dan sesudah melakukan pembelian, seorang konsumen akan melakukan sejumlah proses yang mendasari pengambilan keputusan, yakni:
Pengenalan masalah (problem recognition). Konsumen akan membeli suatu produk sebagai solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Tanpa adanya pengenalan masalah yang muncul, konsumen tidak dapat menentukan produk yang akan dibeli.
Pencarian informasi (information source). Setelah memahami masalah yang ada, konsumen akan termotivasi untuk mencari informasi untuk menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pencarian informasi. Proses pencarian informasi dapat berasal dari dalam memori (internal) dan berdasarkan pengalaman orang lain (eksternal).
Mengevaluasi alternatif (alternative evaluation). Setelah konsumen mendapat berbagai macam informasi, konsumen akan mengevaluasi alternatif yang ada untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya.
Keputusan pembelian (purchase decision). Setelah konsumen mengevaluasi beberapa alternatif strategis yang ada, konsumen akan membuat keputusan pembelian.Terkadang waktuyang dibutuhkan antara membuat keputusan pembelian dengan menciptakan pembelian yang aktual tidak sama dikarenakan adanya hal-hal lain yang perlu dipertimbangkan.
Evaluasi pasca-pembelian (post-purchase evaluation) merupakan proses evaluasi yang dilakukan konsumen tidak hanya berakhir pada tahap pembuatan keputusan pembelian Setelah membeli produk tersebut, konsumen akan melakukan evaluasi apakah produk tersebut sesuai dengan harapannya.Dalam hal ini, terjadi kepuasan dan ketidakpuasan konsumenKonsumen akan puas jika produk tersebut sesuai dengan harapannya dan selanjutnya akan meningkatkan permintaan akan merek produk tersebut pada masa depan.Sebaliknya, konsumen akan merasa tidak puas jika produk tersebut tidak sesuai dengan harapannya dan hal ini akan menurunkan permintaan konsumen pada masa depan.
B.      Faktor-faktor yang memengaruhi
Terdapat 4 faktor internal yang relevan terhadap proses pembuatan keputusan pembelian:
·         Motivasi (motivation) merupakan suatu dorongan yang ada dalam diri manusia untuk mencapai tujuan tertentu.
·         Persepsi (perception) merupakan hasil pemaknaan seseorang terhadap stimulus atau kejadian yang diterimanya berdasarkan informasi dan pengalamannya terhadap rangsangan tersebut.
·         Pembentukan sikap (attitude formation) merupakan penilaian yang ada dalam diri seseorang yang mencerminkan sikap suka/tidak suka seseorang akan suatu hal.
·         Integrasi (integration) merupakan kesatuan antara sikap dan tindakan. Integrasi merupakan respon atas sikap yang diambil. Perasaan suka akan mendorong seseorang untuk membeli dan perasaan tidak suka akan membulatkan tekad seseorang untuk tidak membeli produk tersebut.

C.      Diagnosa Perilaku Konsumen
Pemahaman akan perilaku konsumen dapat diaplikasikan dalam beberapa hal,yaitu
1. untuk merancang sebuah strategi pemasaran yang baik, misalnya menentukan kapan
saat yang tepat perusahaan memberikan diskon untuk menarik pembeli.
2.perilaku konsumen dapat membantu pembuat keputusan membuat kebijakan
publik.Misalnya dengan mengetahui bahwa konsumen akan banyak menggunakan
transportasi saat lebaran, pembuat keputusan dapat merencanakan harga tiket
transportasi di hari raya tersebut.
3.pemasaran sosial (social marketing), yaitu penyebaran ide di antara konsumen.
Dengan memahami sikap konsumen dalam menghadapi sesuatu, seseorang dapat menyebarkan ide dengan lebih cepat dan efektif.
Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen.
1)      Pendekatan pertama adalah pendekatan interpretif. Pendekatan ini menggali secara mendalam perilaku konsumsi dan hal yang mendasarinya. Studi dilakukan dengan melalui wawancara panjang dan focus group discussion untuk memahami apa makna sebuah produk dan jasa bagi konsumen dan apa yang dirasakan dan dialami konsumen ketika membeli dan menggunakannya.
2)      Pendekatan kedua adalah pendekatan tradisional yang didasari pada teori dan metode dari ilmu psikologi kognitif, sosial, dan behaviorial serta dari ilmu sosiologi.Pendekatan ini bertujuan mengembangkan teori dan metode untuk menjelaskan perliku dan pembuatan keputusan konsumen. Studi dilakukan melalui eksperimen dan survey untuk menguji coba teori dan mencari pemahaman tentang bagaimana seorang konsumen memproses informasi, membuat keputusan, serta pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku konsumen.
3)      Pendekatan ketiga disebut sebagai sains marketing yang didasari pada teori dan metode dari ilmu ekonomi dan statistika. Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan perilaku konsumen.
Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen serta strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut.
Pendekatan ini dilakukan dengan mengembangkan dan menguji coba model matematika berdasarkan hirarki kebutuhan manusia menurut Abraham Maslow untuk memprediksi pengaruh strategi marketing terhadap pilihan dan pola konsumsi, yang dikenal dengan sebutanmoving rate analysis. Ketiga pendekatan sama-sama memiliki nilai dan tinggi dan memberikan pemahaman atas perilaku konsumen dan strategi marketing dari sudut pandang dan tingkatan analisis yang berbeda. Sebuah perusahaan dapat saja menggunakan salah satu atau seluruh pendekatan, tergantung permasalahan yang dihadapi perusahaan tersebut

SUMBER :
M. Iqbal Ansam, Teori Pengambilan Keputusan 

Darnius, Open, 2004  Pemakaian Peluang Dalam Membuat Keputusan,Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara 

Budiarto, Teguh (1993). Seri Diktat Kuliah : Dasar Pemasaran. Jakarta : Universitas Gunadarma.


Minggu, 28 September 2014

Artikel Softskill II

Indonesia Harus Siap “Kalah” di AFTA (ASEAN Free Trade Area) 2015


AFTA  atau masyarakat ekonomi ASEAN sudah di depan mata, pasar bebas antar Negara-negara ASEAN ini merupakan peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN yang selanjutnya menjadi indikator untuk mewujudkan pembangunan ekonomi   kawasan tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat diperhitungkan dalam ajang kompetisi ini, karena  Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di kawasan asia tenggara.  Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat potensial daan sekaligus menjadi produsen yang mungkin ditakutkan karena banyaknya industry di Indonesia yang bergerak diberbagai bidang. Singkatnya, pasar bebas kawasan ASEAN ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia  untuk menunjukkan eksistensinya di kawasan Asia Tenggara secara ekonomi.
Oleh karena itu, timbul pertanyaan klasik akan kondisi ekonomi sekarang ini, sudah siapkah Indonesia menghadapi pasar bebas kawasan asia tenggara ini?  Jika tidak bangsa Indonesia harus siap kalah di AFTA.  Namun, apabila  melihat pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sekitar 6% per tahun menunjukkan keadaan ekonomi semakin membaik sejak krisis ekonomi tahun 1997-1998. Hal ini juga terjadi karena pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin berkembang dan banyaknya investor lokal maupun internasional yang telah berinvestasi di Negara ini.  Pertumbuhan ekonomi tidak selalu di ikuti oleh pembangunan ekonomi yang merata karena pertumbuhan ekonomi dilihat dari banyaknya barang dan jasa yang diproduksi meningkat dari waktu ke waktu. Namun pada kesempatan kali ini, saya menyoroti  ekonomi Indonesia dari sisi kesiapan UMKM dalam menghadapi pasar bebas AFTA.
Indonesia  merupakan negara  yang  pertumbuhan ekonominya tergolong  cukup tinggi di dunia sejak terjadinya krisis ekonomi nasional pada tahun 1997. Pertumbuhannya sekitar  6% per tahun. Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh pertumbuhan investasi dari dalam negeri dan luar negeri yang melahirkan berbagai macam jenis usaha dalam pengelolaan sumber daya yang ada dikandung bumi pertiwi ini.  Hal ini juga tak terkecuali karena berkembang pesatnya Usaha Mikro Kecil Menengah di Indonesia. Sumbangsih UMKM sangat besar terhadap aktivitas perekonomian di Indonesia terutama di kota-kota besar dan daerah.  Kontribusi segmen UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia sangat besar. Saat ini ada 56 juta unit UMKM di Indonesia dan  mampu memberikan kesempatan kerja kepada 15 juta orang setiap tahunnya.
Sebagai negara berkembang, sumbangsih UMKM terhadap pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonominya  berasal dari aktivitas UMKM. Sampai tahun 2011 kontribusi UMKM terhadap PDB adalah sekitar 60% atau sekitar 4 triliun.  Bukan hanya dari segi PDB, kontribusi UMKM juga terlihat dari besarnya penerapan tenaga kerja di Indonesia. Hingga tahun 2012 UKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lebih kurang 107 juta jiwa atau sekitar 97,3 %. Pengembangan UKM juga ditujukan untuk mengurangi angka penganguran dari 7,1 % menjadi 5-6%. Hal yang sama juga diharapkan pada angka kemiskinan (www.depkop.go.id).
Kondisi UKM secara nasional ini sangatlah menyedihkan jika tidak dapat bersaing di pasar internasional. Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah telah banyak memberikan perhatian terhadap UMKM yang ada. Namun, kendala yang ada saat ini yang paling banyak ditemukan adalah banyaknya UMKM yang belum bersentuhan dengan dunia perbankan dan lembaga-lembaga pembiayaan lainnya. Menurut Ali Yong, Direktur SME dan Wholesale Banking bank Danamon, Dari sekitar 55 juta unit UKM, baru sekitar 20 juta saja yang memiliki rekening perbankan (http://www.danamon.co.id). Hal ini menunjukkan lemahnya UMKM Indonesia dalam memperoleh informasi perbankan. Padahal lembaga perbankan merupakan lembaga yang  sangat potensial untuk mitra dalam pengembangan usaha.   Selain itu, UKM yang ada didaerah baik perkotaan ataupun yang ada dipedesaan pada hakikatnya mempunyai kelemahan yang sama yaitu  manajemen dan pengelolaan keuanganya belum maksimal. Laporan keuangan UKM banyak yang tidak dibuat. UKM masih banyak yang melakukan perhitungan dengan selisih antara pengeluaran dan penerimaan saja. Oleh karena itu, perhitungan labanya belum jelas. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meminta para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) disiplin dalam menyusun laporan keuangan. Pasalnya, selama ini kebanyakan pelaku UKM tidak punya laporan keuangan. “UKM-UKM itu belum pada disiplin buat laporan keuangan jadi masih berantakan, makanya coba disusun laporan keuangan agar penarikan pajaknya berdasarkan profit. Kalau tidak bias buat laporan keuangan, malas ya resikonya pajaknya dikenakan berdasarkan omzet,” ujar Direktur Komersial dan Bisnis Perbankan Mandiri Sunarso saat acara Mandiri Media Training ‘Peluang dan Tantangan Industri Perbankan 2014,’ di Hotel Santika Yogyakarta, Kamis (21/11/2013) (www.detikfinance.com)
Adapun UKM yang membuat laporan keuangannya belum memiliki kesesuaian dengan standar keuangan yang ada. Padahal sangat perlu diketahui laporan keuangan yang andal dan yang baik merupakan salah satu alat untuk dapat membuat keputusan bisnis dalam suatu usaha supaya layak untuk dikembangkan atau dipertahankan. Kondisi UKM tersebut masih dari segi laporan keuangannya saja, belum lagi model pemasaran yang harus up to date dan strategi produksi yang lebih efisien dan efektif serta pengelolaan usaha yang tidak merusak lingkungan hidup.  Jika melihat kondisi UMKM yang ada saat ini, kita harus siap kalah. Jika tidak persiapkan dari sekarang. Karena kemungkinan besar bakal banyak usaha yang tak mampu untuk bersaing, baik secara modal, produk dan manajerialnya. Parahnya, Lapangan kerja untuk 107 juta tersebut, akan berkurang yang menyebabkan penganguran karena UMKM yang gulung tikar. masih ada waktu untuk berbekal dari sekarang. Pemerintah melalui Kementerian dan koperasi dan dinas koperasi dan UKM yang ada didaerah masih ada kesempatan untuk membekali UMKM yang belum memiliki system manajerial yang jelas, belum memiliki laporan keuangan yang baik dan juga pengelolaan usaha berdasarkan  analisis dampak lingkungan. Pemerintah dapat menggandeng perguruan tinggi, perbankan, dan lembaga-lembaga lainya yang bersentuhan dengan UMKM untuk mengadakan pelatihan dan workshop. Sehingga, UMKM kita layak dan gagah untuk  dapat bersaing secara sehat di AFTA, Indonesia jaya untuk menuju kawasan ASEAN yang lebih sejahtera dan mandiri ekonomi. Sukses untuk UMKM Indonesia.

SUMBER :

Ekonomi.kompasiana.com