Rabu, 31 Oktober 2012

Salah satu Suku di Sulawesi



Suku Konjo Pesisir, Sulawesi
Suku Konjo Pesisir, merupakan suatu suku yang mendiami kabupaten Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan, yang tersebar di kecamatan Bontotiro, kecamatan Kajang, kecamatan Bontobahari dan kecamatan Herlang. Selain itu suku Konjo juga terdapat di kabupaten Sinjai dan di kecamatan Pujananting kabupaten Barru. Populasi suku Konjo diperkirakan sebesar 125.000 orang.


Orang Konjo Pesisir termasuk suku pengarung laut, pada masa dahulu suku ini suka mengarungi lautan dan menjelajah ke mana-mana. Laut bagi mereka adalah kehidupan dan dianggap sebagai lahan untuk mencari sumber kehidupan. Suku ini terkenal dengan kapal Phinisi yang menjadi legenda sejak masa lalu. Karena kemampuan jelajahnya sangat jauh hingga kemana-mana. Selain itu mereka juga sangat trampil dalam membangun atau membuat kapal Phinisi yang juga banyak digunakan oleh suku Bugis dan suku Makassar.

 
Masyarakat suku Konjo Pesisir ini secara mayoritas adalah penganut agama Islam. Agama Islam telah lama berkembang di kalangan mereka. Beberapa tradisi adat suku Konjo Pesisir banyak dikombinasikan dengan unsur budaya Islami.
Perkampungan pemukiman suku Konjo Pesisir berada di dekat hutan lindung yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Konjo. Sehingga siapa saja yang ingin melintas atau memasuki hutan lindung ini harus memakai pakaian serba hitam.
Rumah- rumah suku Konjo Pesisir berada di sepanjang jalan-jalan utama, dan daerah pedesaan. Komunitas mereka terbagi sesuai dengan garis-garis politik sampai dengan tingkat RT, yang terdiri dari 10 rumah tangga. Desa biasanya mengikuti batas-batas kerajaan atau keluarga lama. 

Suku Konjo Pesisir memiliki ciri-ciri budaya sebagai berikut: 
  • saling membantu dalam pekerjaan dan keuangan, upacara perkawinan,
  • menjenguk orang sakit, melayat orang meninggal. Sekalipun di antara anggota suku ini ada pertengkaran, mereka bersatu menghadapi
  • ancaman dari pihak luar.
  • materialisme diwujudkan dengan meminta secara terus terang kepada
  • orang yang tidak takut bersaing mengumpulkan harta dan pemborosan
  • agar orang lain terkesan.
  • kegemaran kumpul-kumpul dan mengobrol.
  • cenderung berkelit dalam menjawab pertanyaan.
  • mempertahankan harga diri, dengan mempertahankan status sosial.

Suku Konjo Pesisir sebagian berprofesi sebagai petani. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Sistem pertanian mereka biasanya berdasarkan sistem bagi hasil antr sesam warga desa, yang dikerjakan secara beramai-ramai atau gotong-royong. Sebagian dari mereka berprofesi sebagai nelayan, mereka menangkap ikan di laut sesuai dengan waktu dan cuaca yang sudah diperhitungkan dengan matang.



sumber bacaan:
  • bangsabugis.blogspot.com
  • sabda.org
  • wikipedia
  • liranews.com
  • dan sumber lain
sumber foto:
  • wong168.wordpress.com

Minggu, 30 September 2012

Permainan Makbenteng


Permainan Makbenteng
Polewali-Mandar adalah sebuah daerah yang tergabung dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Di masa lalu, di daerah yang terletak di pesisir utara Sulawesi Selatan ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Pitu Baba Binaga. Saharudin (1977), menyebutkan bahwa kerajaan ini ketika berperang dengan kerajaan lainnya selalu mengusung panji-panji (bendera) yang harus dibela mati-matian oleh para jowak-nya (prajuritnya). Tradisi inilah yang kemudian melahirkan suatu permainan yang disebut sebagai makbenteng. Makbenteng itu sendiri adalah bahasa setempat yang merupakan gabungan atas dua kata, yaitu “mak” yang berarti “tiang” dan “benteng” yang berarti “tempat pertahanan”. Dengan demikian, makbenteng dapat diartikan sebagai usaha mempertahankan benteng.

Pada masa lalu hanya para remaja bangsawanlah yang melakukannya. Tujuannya, di samping untuk menghibur pejabat-pejabat istana dan keluarga kerajaan, juga untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan menjunjung tinggi panji-panji kebesaran kerajaan. Selain itu, melalui permainan ini anak-anak remaja kaum bangsawan akan terlatih dalam membela dan mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Seiring dengan perkembangan zaman, ditambah dengan runtuhnya kerajaan Pitu Baba Binaga, maka permainan ini tidak hanya menjadi “milik” para bangsawan lagi, melainkan dewasa ini siapa saja dapat melakukannya.

Aturan Main
Permainan ini pada umumnya hanya dimainkan oleh anak laki-laki karena berhubungan dengan fisik, pemain rata-rata berumur 10--16 tahun. Bentuk permainan ini adalah beregu dengan anggota 4 orang.

Makbenteng memerlukan tempat yang agak luas (sekitar 10 x 20 meter). Luas tersebut dibagi menjadi dua bagian; sebagian untuk regu yang satu dan sebagian regu yang lain. Mengingat arena yang dibutuhkan relatif luas, maka permainan ini biasanya dilakukan di sebuah tanah yang lapangan (lapangan) atau halaman rumah yang cukup luas.

Permainan makbenteng intinya adalah saling menyerang ke daerah pertahanan lawan dan merobohkan benderanya. Siapa diantara kedua regu tersebut yang dapat merobohkan bendera paling banyak akan menjadi pemenangnya. Regu yang menang disebut sebagai topuang (penguasa). Sedangkan regu yang kalah disebut sebagai batuah musuk atau orang yang dijadikan budak karena kalah perang.

Nilai yang terkandung dalam permainan makbenteng adalah kecintaan terhadap wilayah (tanah air), kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kecintaan terhadap wilayah tercermin dari usaha para pemain untuk mempertahankan bentengnya. Nilai kerja keras dan kerja sama tercermin dari usaha untuk mempertahankan bendera regunya dan merobohkan bendera lawan. Dan, nilai sportivitas tercermin dari sikap dan perilaku yang sportif dari para pemain. Dalam konteks ini jika kalah akan mengakui kekalahannya dengan lapang dada, dan jika menang tidak menyombongkan diri. Sikap sportif perlu ditunjukkan karena permainan ini adalah permainan fisik (adu kekuatan) yang dapat menyulut emosi setiap pemain yang pada gilirannya dapat menimbulkan perkelahian

Permainan Akbombo-bombo Sulawesi Selatan


Permainan Akbombo-bombo Sulawesi Selatan

Kajang adalah suatu kecamatan yang berada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia. Di daerah ini ada sebuah permainan yang oleh masyarakatnya disebut akbombo-bombo. Akbombo-bombo merupakan kata jadian (gabungan) dari dua kata, yaitu ak yang berarti “melakukan sesuatu” dan bombo “Mahkluk halus” . Dengan demikian, akbombo-bombo dapat diartikan sebagai “melakukan sesuatu yang menyerupai bombo (makhluk halus atau orang yang seluruh tubuhnya dibalut dengan kain)”.

Permainan akbombo-bombo berawal dari upaya orang dewasa untuk menakuti anak-anak, apabila mereka terus bermain hingga malam hari. Cara menakutinya adalah dengan menutup muka menggunakan sarung dan secara tiba-tiba muncul di hadapan anak-anak sambil berteriak, “Ya bombo. Ya bombo”. Tujuannya adalah agar mereka takut melihat orang yang menyerupai “bombo” dan segera pulang ke rumah masing-masing.

Namun, dalam perkembangannya, usaha yang tadinya dilakukan oleh orang dewasa untuk menakuti anak-anak, akhirnya malah berubah menjadi suatu permainan yang disebut akbombo-bombo. Dalam permainan ini, pemain yang berperan sebagai bombo harus ditutup mukanya dengan sarung, sebelum menebak nama salah seorang pemain hanya dengan rabaan sambil mengucapkan perkataan yang lucu agar pemain yang sedang diraba tertawa dan dapat diketahui atau disebut namanya.

Aturan Main

Pemain akbombo-bombo berjumlah 13--21 orang, dengan usia 7--14 tahun. Permainan ini dapat dimainkan secara bersama-sama oleh laki-laki dan perempuan. Dari sekian banyak pemain tersebut, hanya satu orang yang menjadi bombo, sedangkan pemain yang lainnya akan berdiri membentuk sebuah lingkaran mengelilingi bombo, yang nantinya akan ditebak namanya oleh bombo. Selain pemain, akbombo-bombo juga menggunakan seorang wasit (matowa) yang diambil dari para penonton untuk mengawasi jalannya permainan. Permainan yang disebut akbombo-bombo intinya adalah pemain yang menjadi bombo harus menebak (dengan mata ditutup sarung) nama salah seorang pemain hanya dengan meraba sambil berucap perkataan yang lucu. Apabila ia berhasil menebak, maka pemain yang ditebak tersebut harus menggantikannya menjadi bombo. Namun, apabila tebakan salah, maka pemain tersebut akan tetap menjadi bombo.
 
Nilai yang ada di dalam permainan ini adalah : kerja keras, kerja sama dan sportivitas. Nilai kerja keras terdapat pada usaha pemain yang menjadi bombo untuk mengenali pemain lain hanya dengan rabaan dan kata-kata yang dapat membuat pemain yang diraba tertawa. Nilai kerja sama tercermin dari permainan yang dilakukan secara beregu. Setiap regu, anggotanya akan bekerja sama untuk mengumpulkan nilai sebanyak-banyaknya agar dapat mengalahkan regu lawan. Nilai sportivitas tercermin dari sikap para pemain yang tidak berbuat curang selama permainan berlangsung dan bersedia menggantikan posisi pemain yang menjadi bombo. Nilai sportivitas juga perlu ditunjukkan oleh sebuah regu yang harus berlapang dada apabila regunya kalah dari regu lawan.