Minggu, 31 Maret 2013

Direct and Indirect Speech



Direct And Indirect Speech
Indirect speech, also called reported speech or indirect discourse, is a means of expressing the content of statements, questions or other utterances, without quoting them explicitly as is done in direct speech. For example, He said "I'm coming" is direct speech, whereas He said he was coming is indirect speech.
If we look at the direct speech sentence, there are characteristics that are identical quotation marks (") .
When the sentence is converted into direct speech indirect speech sentences, the quotation marks were removed or replaced with the word "that" or "to" (for command line) .

Example :
No
Direct Speech
Indirect Speech
01
He said, "I have a present for you in my bag."
He said that he had a present for me in his bag.
02
He asked me, "why do you come late."
He asked me why I came late.
03
He orderd me, "don't bring a bag."
He ordered me to didn't bring a bag.

Sentence structure changes also occur if the direct speech using a sentence question, it will be converted into an affirmative sentence (news) .
To direct speech sentences or questions using "yes-no question" it will be changed to if / Whether

Example :
No
Direct Speech
Indirect Speech
01
They asked me, "Do you want to join us to play football?"
They asked me if/whether I want to join them to play football.
02
He asked me, "Does she want to mary me?"
He asked me if/whether she wants to mary her.

To direct speech sentences using 5W1H question (Why, Who, What, When, Where, How), it will be converted into an affirmative sentence as follows:
No
Direct Speech
Indirect Speech
01
He asked me, "why do you come late?"
He asked me why you came late.
02
He asked me, "what does she eat?"
He asked me what she ate.
03
He asked me, "when did you come?"
He asked me when I came.
04
He asked me, "who are you?"
He asked me who I was.
05
He asked me, "who is she?"
He asked me who she was.

Rabu, 31 Oktober 2012

Salah satu Suku di Sulawesi



Suku Konjo Pesisir, Sulawesi
Suku Konjo Pesisir, merupakan suatu suku yang mendiami kabupaten Bulukumba provinsi Sulawesi Selatan, yang tersebar di kecamatan Bontotiro, kecamatan Kajang, kecamatan Bontobahari dan kecamatan Herlang. Selain itu suku Konjo juga terdapat di kabupaten Sinjai dan di kecamatan Pujananting kabupaten Barru. Populasi suku Konjo diperkirakan sebesar 125.000 orang.


Orang Konjo Pesisir termasuk suku pengarung laut, pada masa dahulu suku ini suka mengarungi lautan dan menjelajah ke mana-mana. Laut bagi mereka adalah kehidupan dan dianggap sebagai lahan untuk mencari sumber kehidupan. Suku ini terkenal dengan kapal Phinisi yang menjadi legenda sejak masa lalu. Karena kemampuan jelajahnya sangat jauh hingga kemana-mana. Selain itu mereka juga sangat trampil dalam membangun atau membuat kapal Phinisi yang juga banyak digunakan oleh suku Bugis dan suku Makassar.

 
Masyarakat suku Konjo Pesisir ini secara mayoritas adalah penganut agama Islam. Agama Islam telah lama berkembang di kalangan mereka. Beberapa tradisi adat suku Konjo Pesisir banyak dikombinasikan dengan unsur budaya Islami.
Perkampungan pemukiman suku Konjo Pesisir berada di dekat hutan lindung yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Konjo. Sehingga siapa saja yang ingin melintas atau memasuki hutan lindung ini harus memakai pakaian serba hitam.
Rumah- rumah suku Konjo Pesisir berada di sepanjang jalan-jalan utama, dan daerah pedesaan. Komunitas mereka terbagi sesuai dengan garis-garis politik sampai dengan tingkat RT, yang terdiri dari 10 rumah tangga. Desa biasanya mengikuti batas-batas kerajaan atau keluarga lama. 

Suku Konjo Pesisir memiliki ciri-ciri budaya sebagai berikut: 
  • saling membantu dalam pekerjaan dan keuangan, upacara perkawinan,
  • menjenguk orang sakit, melayat orang meninggal. Sekalipun di antara anggota suku ini ada pertengkaran, mereka bersatu menghadapi
  • ancaman dari pihak luar.
  • materialisme diwujudkan dengan meminta secara terus terang kepada
  • orang yang tidak takut bersaing mengumpulkan harta dan pemborosan
  • agar orang lain terkesan.
  • kegemaran kumpul-kumpul dan mengobrol.
  • cenderung berkelit dalam menjawab pertanyaan.
  • mempertahankan harga diri, dengan mempertahankan status sosial.

Suku Konjo Pesisir sebagian berprofesi sebagai petani. Mereka menanam berbagai jenis tanaman, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Sistem pertanian mereka biasanya berdasarkan sistem bagi hasil antr sesam warga desa, yang dikerjakan secara beramai-ramai atau gotong-royong. Sebagian dari mereka berprofesi sebagai nelayan, mereka menangkap ikan di laut sesuai dengan waktu dan cuaca yang sudah diperhitungkan dengan matang.



sumber bacaan:
  • bangsabugis.blogspot.com
  • sabda.org
  • wikipedia
  • liranews.com
  • dan sumber lain
sumber foto:
  • wong168.wordpress.com

Minggu, 30 September 2012

Permainan Makbenteng


Permainan Makbenteng
Polewali-Mandar adalah sebuah daerah yang tergabung dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Di masa lalu, di daerah yang terletak di pesisir utara Sulawesi Selatan ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Pitu Baba Binaga. Saharudin (1977), menyebutkan bahwa kerajaan ini ketika berperang dengan kerajaan lainnya selalu mengusung panji-panji (bendera) yang harus dibela mati-matian oleh para jowak-nya (prajuritnya). Tradisi inilah yang kemudian melahirkan suatu permainan yang disebut sebagai makbenteng. Makbenteng itu sendiri adalah bahasa setempat yang merupakan gabungan atas dua kata, yaitu “mak” yang berarti “tiang” dan “benteng” yang berarti “tempat pertahanan”. Dengan demikian, makbenteng dapat diartikan sebagai usaha mempertahankan benteng.

Pada masa lalu hanya para remaja bangsawanlah yang melakukannya. Tujuannya, di samping untuk menghibur pejabat-pejabat istana dan keluarga kerajaan, juga untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan menjunjung tinggi panji-panji kebesaran kerajaan. Selain itu, melalui permainan ini anak-anak remaja kaum bangsawan akan terlatih dalam membela dan mempertahankan kerajaan dari serangan musuh. Seiring dengan perkembangan zaman, ditambah dengan runtuhnya kerajaan Pitu Baba Binaga, maka permainan ini tidak hanya menjadi “milik” para bangsawan lagi, melainkan dewasa ini siapa saja dapat melakukannya.

Aturan Main
Permainan ini pada umumnya hanya dimainkan oleh anak laki-laki karena berhubungan dengan fisik, pemain rata-rata berumur 10--16 tahun. Bentuk permainan ini adalah beregu dengan anggota 4 orang.

Makbenteng memerlukan tempat yang agak luas (sekitar 10 x 20 meter). Luas tersebut dibagi menjadi dua bagian; sebagian untuk regu yang satu dan sebagian regu yang lain. Mengingat arena yang dibutuhkan relatif luas, maka permainan ini biasanya dilakukan di sebuah tanah yang lapangan (lapangan) atau halaman rumah yang cukup luas.

Permainan makbenteng intinya adalah saling menyerang ke daerah pertahanan lawan dan merobohkan benderanya. Siapa diantara kedua regu tersebut yang dapat merobohkan bendera paling banyak akan menjadi pemenangnya. Regu yang menang disebut sebagai topuang (penguasa). Sedangkan regu yang kalah disebut sebagai batuah musuk atau orang yang dijadikan budak karena kalah perang.

Nilai yang terkandung dalam permainan makbenteng adalah kecintaan terhadap wilayah (tanah air), kerja keras, kerja sama, dan sportivitas. Nilai kecintaan terhadap wilayah tercermin dari usaha para pemain untuk mempertahankan bentengnya. Nilai kerja keras dan kerja sama tercermin dari usaha untuk mempertahankan bendera regunya dan merobohkan bendera lawan. Dan, nilai sportivitas tercermin dari sikap dan perilaku yang sportif dari para pemain. Dalam konteks ini jika kalah akan mengakui kekalahannya dengan lapang dada, dan jika menang tidak menyombongkan diri. Sikap sportif perlu ditunjukkan karena permainan ini adalah permainan fisik (adu kekuatan) yang dapat menyulut emosi setiap pemain yang pada gilirannya dapat menimbulkan perkelahian