Senin, 09 November 2015
Minggu, 04 Oktober 2015
Moral dan Amoral Etika Bisnis
Definisi Pengertian Etika Bisnis Menurut Para Ahli
·
Menurut
Velasques (2002)
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar
dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan
dalam kebijakan, institusi dan perilaku bisnis.
·
Menurut
Steade et al (1984:701)
Etika bisnis adalah standar etika yang berkaitan dengan tujuan dan cara
membuat keputusan bisnis.
·
Menurut
Hill dan jones (1998)
Etika bisnis merupakan suatu ajaran untuk membedakan antara salah dan
benar guna memberikan pembekalan kepada setiap pemimpin perusahaan ketika
mempertimbangkan untuk mengambil keputusan strategis yang terkait dengan
masalah moral yang kompleks.
·
Menurut
Sim (2003)
Etika adalah istilah filosofis yang berasal dari “etos”, kata Yunaniyang
berarti karakter atau kustom. Definisi erat dengan kepemimpinan yang efektif
dalam organisasi, dalam hal ini berkonotasi kode organisasi menyampaikan
integritas moral dan nilai-nilai yang konsisten dalam pelayanan kepada
masyarakat.
·
Menurut
Bertens
Bertens (2000:36) mengatakan bahwa etika bisnis dalam bahasa Inggris
disebut business ethics. Dalam bahasa Belanda dipakai nama bedrijfsethick
(etika perusahaan) dan dalam bahasa Jerman Unternehmensethik (etika usaha).
Cukup dekat dengan itu dalam bahasa Inggris kadang-kadang dipakai corporate
ethics (etika korporasi). Narasi lain adalah “etika ekonomis” atau”etika
ekonomi” (jarang dalam bahasa Inggris economic ethics; lebih banyak dalam
bahasa Jerman Wirtschaftsethik). Ditemukan juga nama management ethics atau
managerial ethics (etika manajemen) atau organization ethics (etika
organisasi).
·
Menurut
Yosephus
Yosephus (2010:79) mengatakan bahwa Etika Bisnis secara hakiki merupakan
Applied Ethics (etika terapan). Di sini, etika bisnis merupakan wilayah penerapan
prinsip-prinsip moral umum pada wilayah tindak manusia di bidang ekonomi,
khususnya bisnis. Jadi, secara hakiki sasaran etika bisnis adalah perilaku
moral pebisnis yang berkegiatan ekonomi.
Pengertian Etika Bisnis
Pengertian Etika Bisnis secara sederhana adalah : cara-cara untuk
melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan
dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat. Semuanya
ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum
yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan
di masyarakat itu sendiri.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu
untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi
serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi,
diperlukan suatu landasan yang kokoh.
Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik,
sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang handal serta
etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.
Macam-macam Etika
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi
konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai
etika), dan etika terapan(studi penggunaan nilai-nilai
etika).
Adapun Jenis-jenis Etika adalah sebagai berikut:
1. Etika Filosofis
Etika filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang
berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia.
Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari
filsafat.
2. Ada dua sifat etika, yaitu:
a. Non-empiris Filsafat digolongkan sebagai
ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang
kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang
kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret.
Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret
yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya
dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
b. Praktis Cabang-cabang filsafat berbicara
mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum.
Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang
harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat
praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan manusia. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif,
dimana etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani,
kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu
untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya.
3. Etika Teologis
Terdapat dua hal-hal yang berkait dengan etika teologis. Pertama, etika
teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat
memiliki etika teologisnya masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan
bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang
terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika
secara umum.
Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang
bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi
kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis.
Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa
yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini,
antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam
merumuskan etika teologisnya.
Teori Etika Bisnis
Ada beberapa teori tentang etika bisnis seperti yang diungkapkan oleh
Yosephus (2010) sebagai berikut :
a. Teori Kebahagiaan
Teori kebahagiaan mencakup hedonisme dan utilitarisme. Baik hedonisme
maupun utilitarisme sama-sama merupakan teori etika normatif yang mempersoalkan
tujuan hidup manusia. Secara umum, baik penganut hedonisme maupun utilitarisme
sependapat bahwa kebahagiaan merupakan satu-satunya tujuan hidup semua manusia,
maka prinsip pokok yang mendasari setiap perilaku manusia adalah bagaimana
mencapai kebahagiaan sebagai satu-satunya tujuan hidup.
b. Utilitarisme
Utilitarisme berasal dari kata utilis dalam bahasa Latin yang berarti
berguna atau berfaedah. Menurut utilitarisme, suatu perbuatan atau tindakan
adalah baik jika tindakan tersebut bermanfaat atau berguna. Persoalnnya berguna
atau bermanfaat untuk siapa dan dalam kondisi seperti apa? Pada pertannyaan
seperti itu, kaum utilitarisme menjawab bahwa suatu perbuatan atau
tindakan adalah baik jika berguna atau bermanfaat bagi si pelaku maupun bagi
semua orang yang terkena dampak dari perbuatan atau tindakan itu.
Sebagai teori etika, utilitarisme sering disebut the greatest happiness
theory atau teori kebahagian terbesar. Dibedakan antara utilitarisme tindakan
dan utilitarisme peraturan, tergantung apakah kriteria utilitaristik itu
ditetapkan pada tindakan atau pada peraturan.
c. Hedonisme
Hedonism berasal dari kata hedone dalam bahasa Yunani yang berarti
”nikmat atau kegembiraan”. Sebagai paham teori moral, hedonisme bertolak dari
asumsi dasar bahwa manusia hendaknya berperilaku sedemikian rupa agar hidupnya
bahagia. Dengan singkat namun tegas, kaum hedonisme merumuskan : “carilah
nikmat dan hindarilah rasa sakit!”. Berdasarkan rumusan ini, bagaimana hedonism
(terutama Aristippos dan Epikuros) memaknai hidup. Bagi mereka hidup adalah
upaya menjauhi rasa sakit dan mendekatkan diri pada rasa nikmat.
Motivasi yang paling kuat di balik tujuan-tujuan yang luhur, seperti:
penegakan kebenaran dan keadilan serta tujuan-tujuan suci, misalnya penyebaran
iman, bahwa dalam melakukan kegiatan apapun juga secara kodrati manusia selalu
tergerak mencari dan mendapatkan kenikmatan hidup. Sebuah penipuan diri dan
kemunafikan jika ada orang yang mengatakan segala kegiatannya ditunjukkan demi
cita-cita luhur atau demi membantu atau menolong orang-orang lain. Jadi,
menurut paham hedonism psikologis, manusia itu pada dasarnya sangat egois
karena segala tindakannya hanya ditunjukkan untuk mendapatkan kenikmatan
dirinya sendiri.
d. Teori Kewajiban (deontologisme)
Teori deontology justru mengukur baik atau buruknya suatu tindakan dari
segi wajib dan tidaknya perbuatan tersebut dilakukan. Kata “deon” (Yunani) dari
istilah deontology berarti kewajiban atau apa yang wajib dilakukan. Sistem atau
teori moral ini pertama kali diajukan oleh filsuf-etikawan Jerman, Immanuel
Kant (1724-1904).
Menurut Immanuel Kant inti ajaran deontology yang disebut baik dalam arti yang sesungguhnya, hanyalah “good will” atau kehendak baik. Jadi, good will, hanya bisa dikatakan baik jika memenuhi persyaratan tertentu. Pada tataran ini, politik, bisnis, kepandaian, atau kekuasaan adalah good will atau kehendak baik.
Menurut Kant, kehendak itu menjadi baik, kalau yang menjadi dasar dari suatu tindakan adalah kewajiban. Dengan demikian Kant menggaris-bawahi, bahwa suatu perbuatan secara moral adalah baik jika orang yang melakukannya menghormati atau menghargai hukum moral. Hukum moral yang dimaksudkan Kant adalah kewajiban seorang berkehendak baik jika ia hanya menghendaki untuk melakukan yang wajib baginya.
Menurut Immanuel Kant inti ajaran deontology yang disebut baik dalam arti yang sesungguhnya, hanyalah “good will” atau kehendak baik. Jadi, good will, hanya bisa dikatakan baik jika memenuhi persyaratan tertentu. Pada tataran ini, politik, bisnis, kepandaian, atau kekuasaan adalah good will atau kehendak baik.
Menurut Kant, kehendak itu menjadi baik, kalau yang menjadi dasar dari suatu tindakan adalah kewajiban. Dengan demikian Kant menggaris-bawahi, bahwa suatu perbuatan secara moral adalah baik jika orang yang melakukannya menghormati atau menghargai hukum moral. Hukum moral yang dimaksudkan Kant adalah kewajiban seorang berkehendak baik jika ia hanya menghendaki untuk melakukan yang wajib baginya.
e. Teori Keutamaan (virtue ethics)
Apapun pekerjaan dan profesinya selalu ingin menjadi orang menjadi kuat
secara moral yang berarti memiliki kepribadian yang mantap sehingga selalu
sanggup bertindak sesuai dengan apa yang diyakini sebagai baik dan benar.
Kepribadian yang kuat dan mantap secara moral disebut “keutamaan moral”.
Model Etika Dalam Bisnis
Carroll dan Buchollz (2005) dalam Rudito (2007:49) membagi tiga
tingkatan manajemen dilihat dari cara para pelaku bisnis dalam menerapkan
etika dalam bisnisnya.
1. Immoral Manajemen
Immoral manajemen merupakan tingkatan terendah dari model manajemen
dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis. Manajer yang memiliki manajemen
tipe ini pada umumnya sama sekali tidak mengindahkan apa yang dimaksud dengan
moralitas, baik dalam internal organisasinya maupun bagaimana dia menjalankan aktivitas
bisnisnya. Para pelaku bisnis yang tergolong pada tipe ini, biasanya
memanfaatkan kelemahan-kelemahan dan kelengahan-kelengahan dalam komunitas
untuk kepentingan dan keuntungan diri sendiri, baik secara individu atau
kelompok mereka. Kelompok manajemen ini selalu menghindari diri dari yang
disebut etika. Bahkan hukum dianggap sebagai batu sandungan dalam menjalankan
bisnisnya.
2. Amoral Manajemen
Tingkatan kedua dalam aplikasi etika dan moralitas dalam manajemen
adalah amoral manajemen. Berbeda dengan immoral manajemen, manajer dengan tipe
manajemen seperti ini sebenarnya bukan tidak tahu sama sekali etika atau
moralitas. Ada dua jenis lain manajemen tipe amoral ini, yaitu Pertama, manajer
yang tidak sengaja berbuat amoral (unintentional amoral manager). Tipe ini
adalah para manajer yang dianggap kurang peka, bahwa dalam segala keputusan
bisnis yang diperbuat sebenarnya langsung atau tidak langsung akan memberikan
efek pada pihak lain. Oleh karena itu, mereka akan menjalankan bisnisnya tanpa
memikirkan apakah aktivitas bisnisnya sudah memiliki dimensi etika atau belum.
Manajer tipe ini mungkin saja punya niat baik, namun mereka tidak bisa melihat
bahwa keputusan dan aktivitas bisnis mereka apakah merugikan pihak lain atau
tidak. Tipikal manajer seperti ini biasanya lebih berorientasi hanya pada hukum
yang berlaku, dan menjadikan hukum sebagai pedoman dalam
beraktivitas. Kedua, tipe manajer yang sengaja berbuat amoral. Manajemen
dengan pola ini sebenarnya memahami ada aturan dan etika yang harus dijalankan,
namun terkadang secara sengaja melanggar etika tersebut berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan bisnis mereka, misalnya ingin melakukan efisiensi dan
lain-lain. Namun manajer tipe ini terkadang berpandangan bahwa etika hanya
berlaku bagi kehidupan pribadi kita, tidak untuk bisnis. Mereka percaya bahwa
aktivitas bisnis berada di luar dari pertimbangan-pertimbangan etika dan
moralitas.
Widyahartono (1996:74) mengatakan prinsip bisnis amoral itu menyatakan
“bisnis adalah bisnis dan etika adalah etika, keduanya jangan
dicampur-adukkan”. Dasar pemikirannya sebagai berikut :
3. Moral Manajemen
Tingkatan tertinggi dari penerapan nilai-nilai etika atau moralitas
dalam bisnis adalah moral manajemen. Dalam moral manajemen, nilai-nilai etika
dan moralitas diletakkan pada level standar tertinggi dari segala bentuk
prilaku dan aktivitas bisnisnya. Manajer yang termasuk dalam tipe ini hanya
menerima dan mematuhi aturan-aturan yang berlaku namun juga terbiasa meletakkan
prinsip-prinsip etika dalam kepemimpinannya. Seorang manajer yang termasuk
dalam tipe ini menginginkan keuntungan dalam bisnisnya, tapi hanya jika bisnis
yang dijalankannya secara legal dan juga tidak melanggar etika yang ada dalam
komunitas, seperti keadilan, kejujuran, dan semangat untuk mematuhi hukum yang
berlaku. Hukum bagi mereka dilihat sebagai minimum etika yang harus mereka
patuhi, sehingga aktifitas dan tujuan bisnisnya akan diarahkan untuk melebihi
dari apa yang disebut sebagai tuntutan hukum. Manajer yang bermoral selalu
melihat dan menggunakan prinsip-prinsip etika seperti, keadilan, kebenaran, dan
aturan-aturan emas (golden rule) sebagai pedoman dalam segala keputusan bisnis
yang diambilnya.
Perkembangan Etika Bisnis
Berikut perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000):
1. Situasi Dahulu
Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani
lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama dalam
negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus
diatur.
2. Masa Peralihan: tahun 1960-an
ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat
(AS), revolusi mahasiswa (di ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan).
Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya manajemen, yaitu
dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business
and Society. Topik yang paling sering dibahas adalah corporate social
responsibility.
3. Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an
sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di
sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas
krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.
4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an
di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang
kira-kira 10 tahun kemudian. Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari
universitas serta sekolah bisnis yang disebutEuropean Business Ethics
Network (EBEN).
5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun
1990-an
tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di
seluruh dunia. Telah didirikan International Society for Business,
Economics, and Ethics (ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.
Sumber :
Baron, (2003, 34) Etika Bisnis. Balai pustaka
Jakarta.
Bertens, K. 2000. Pengantar
Etika Bisnis. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Js. Drs. Ongky Setio Kuncono, MM, MBA, Pengaruh Etika Confucius Terhadap
Kewirausahaan
Sabtu, 14 Maret 2015
Penalaran, Proposisi, dan Silogisme
I.
PENALARAN
Apa itu penalaran
? Secara sederhana, penalaran dapat diartikan sebagai proses berfikir yang
sistematik dan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan berdasarkan
proporsi-proporsi yang mendahuluinya. Bahan pengambilan keputusan dapat
berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli (otoritas).
PENALARAN MENURUT BEBERAPA SUMBER
Penalaran Menurut Para Ahli :
·
Bakry (1986:1)
menyatakan bahwa penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang paling
umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu
kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah
diketahui.
·
Suriasumantri
(2001:42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas
berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
·
Keraf (1985:5)
berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan
menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu
kesimpulan.
Dari beberapa pengertian para hli tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa
penalaran merupakan proses berpikir manusia untuk menguhubungkan fakta-fakta
atau data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa pengetahuan.
Dengan kata lain, penalaran merupakan sebuah proses berpikir untuk mencapai
suatu kesimpulan yang logis.
Penalaran Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia :
·
Cara ( perihal)
menggunakan nalar, pemikiran, atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran.
·
Hal yang
mengembangkan atau mengembalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan
atau pengalaman.
·
Proses mental
dengan mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.
CIRI – CIRI PENALARAN :
1. Dilakukan dengan sadar,
2.
Didasarkan atas
sesuatu yang sudah diketahui,
3.
Sistematis,
4.
Terarah,
bertujuan,
5.
Menghasilkan
kesimpulan berupa pengetahuan, keputusan atau sikap yang baru,
6.
Sadar tujuan,
7.
Premis berupa
pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang diperoleh,
8.
Pola pemikiran
tertentu,
9. Sifat empiris rasional.
METODE / JENIS PENALARAN
Terdapat 2 metode penalaran, yaitu
metode induktif dan deduktif :
1.
Metode Induktif
Metode berpikir induktif
adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus
ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi
fenomena sejenis yang belum diteliti.
A.
GENERALISASI
Adalah proses penalaran berdasarkan pengamatan atas
jumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan
mengenai semua atau sebagian dari gejala serupa. Generalisasi dibuktikan
dengan data, contoh, statistic dll
Contoh :
-
Orang yang menjadi kader partai korupsi
-
Orang yang menjabat sebagai ketua umum partai korupsi
v Generalisasi
: Orang yang berkerja di partai korupsi
Jenis-jenis generalisasi :
1. Generalisasi
Tanpa Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang
menjadi atas dasar penyimpulan yang telah diselidiki.
Contoh
v Data survey
LSM Tahun 2015
2. Generalisasi
Dengan Loncatan Induktif
Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari
sebagian fenomena yang diselidiki
diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh:
v Hampir
seluruh partai mendapat pendapatan dari hasil korupsi.
B.
ANALOGI
Adalah suatu proses penalaran membandingkan sifat
esensial yang mempunyai persamaan. Dengan asumsi tersebut diasumsikan ada
persamaan pula dalam hal lainya.
Ada 2 macam analogi,yaitu :
1. Analogi
Induktif
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun
berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan
bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat
bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada
persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
v Contoh
analogi induktif :
Timnas Indonesia lolos dalam semifinal piala asia dengan demikian timnas
Indonesia akan masuk piala dunia di tahun mendatang dengan berlatih setiap
hari.
2. Analogi
Deklaratif
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan
atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu
yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat
karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan
dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
v Contoh
analogi deklaratif :
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas
antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk
mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
C.
HUBUNGAN
SEBAB-AKIBAT
Hubungan sebab akibat diambil dengan menghubungkan
fakta yang satu dengan fakta yang lain, dapatlah kita sampai kepada kesimpulan
yang menjadi sebab dari fakta itu atau dapat juga kita sampai kepada akibat
fakta tersebut.
Penalaran induksi sebab akibat dibedakan menjadi 3 macam:
1. Hubungan
sebab – akibat
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal
yang menjadi sebab, kemudian ditarik kesimpulan yang berupa akibat.
v Contoh
Belajar, berdoa, tekun dan tidak putus asa adalah hal yang bias
membuat kita berada di puncak kesuksesan.
2. Hubungan
akibat – sebab
Dalam hubungan ini dikemukakan terlebih dahulu hal-hal
yang menjadi akibat, selanjutnya ditarik kesimpulan yang merupakan sebabnya.
v Contoh :
Dewasa marak terjadi tindak criminal di perkotaan seperti,tingkat stress
yang tinggi, tawuran antar wilayah dan bunuh diri yang disebabkan kenaikan
harga bbm sehingga mengalami kesulitan ekonomi.
3. Hubungan
sebab – akibat 1 – akibat 2
Suatu penyebab dapat menimbulkan serangkaian akibat.
Akibat pertama menjadi sebab hingga menimbulkan akibat kedua. Akibat kedua
menjadi sebab yang menimbulkan akibat ketiga, dan seterusnya.
v Contoh
penalaran hubungan sebab – akibat 1 – akibat 2:
Setiap menjelang hari idul fitri arus lalu lintas di tol sangat
ramai. Seminggu sebelum hari H jalanan sudah dipenuhi kendaraan-kendaraan
umum maupun pribadi yang mengangkut penumpang yang akan pulang ke daerahnya
masing-masing. Banyaknya kendaraan tersebut mau tidak mau mengakibatkan arus
lalu lintas menjadi semrawut. Kesemrawutan ini tidak jarang sering menimbulkan
kemacetan di mana-mana. Lebih dari itu bahkan tidak mustahil kecelakaan menjadi
sering terjadi.
4. Metode
Deduktif
Metode berpikir
deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
v Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum)
dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan
imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif
sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.
Metode ini
diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu
harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya
dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif
tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
v Contoh; Jika meneliti konsumsi rumah tangga
untuk minyak, maka sebelum turun ke lapangan yang dipersiapkan adalah teori
konsumsi, permintaan dan penawaran barang, dll; pertanyaan yang akan diajukan
sudah jeas dan hampir baku, sampelnya jelas, dll artinya sudah disiapkan semua
tinggal cari data.
Jenis-jenis penalaran deduktif :
A.
SILOGISME
Penalaran
deduksi biasanya sering digunakan adalah silogisme. Silogisme adala penalaran
secara tidak langsung. Dalam silogisme kita terdapat dua premis dan satu premis
kesimpulan. Kedua premis itu adalah premis umum/premis mayor dan premis
khusus/premis minor. Dari kedua premis tersebut kesimpulan dirumuskan.
Rumus menentukan
kesimpulan sebagai berikut :
PU : semua A = B
PK : C = A
K : C = B
v Contoh : PU : Semua hewan yang
mempunyai telinga berkembang biak dengan melahirkan
PK : Rusa memiliki
telinga
K : Rusa tentu
berkembang biak dengan
B.
ENTINEM
Entinem
adalah silogisme yang dipersingkat, hanya terdiri dari premis khusus dan
kesimpulan. Entimen mengandung penyimpulan sebab akibat dari kedua preposisi
tersebut, yaitu preposisi khusus (premis khusus) merupakan sebab bagi apa yang
terkandung di dalam preposisi kesimpulan
v Contoh :
Silogisme kategorial :
PU : Semua dosen (A) adalah lulusan perguruan tinggi (B)
PK : Bapak Budi C
adalah seorang dosen (A)
K : Bapak Budi C
adalah seorang dosen (B)
Entinem : Bapak Budi
adalah lulusan perguruan tinggi ia seorang dosen
II.
PROPOSISI
Proposisi
adalah suatu ekspresi verbal dari keputusan yang berisi pengakuan atau
pengingkaran sesuatu predikat terhadap suatu yang lain, yang dapat dinilai
bener atau salah.
Jenis-jenis proposisi
terbagimenjadi 4 bagian :
1)
Proposisi berdasarkan Bentuk :
a.
Proposisi
tunggal adalah proposisi yang memiliki 1 subjek dan 1 predikat.
Contoh :
v
Unie
menyayi
v
Ayah
membaca koran
b.
Proposisi
majemuk adalah proposisi yang memiliki 1 subjek dan lebih dari 1 predikat.
Contoh :
v Indra belajar bermain piano dan
menyayi di studio
2)
Proposisi berdasarkan Sifat :
a.
Proposisi
Kategorial adalah proposisi dimana hubungan antara subyek dan predikatnya
mempunyai syarat apapun
Contoh :
v
Semua
Perempuan di indonesia akan mengalami Menstruasi
v Setiap mengendarai mobil harus
memakai seftybeld
b. Proposisi kondisional adalah
proposisi dimana hubungan antara subjek dan predikat membutuhkan syarat
tertentu.
Contoh:
v Jika yogi lulus UN maka saya akan
berikan hadiah
v Jika saya lulus penelitian ilmiah
maka saya akan mengadakan syukuran
3)
Proposisi berdasarkan kualitas:
a. Proporsisi positif, yaitu proporsisi
dimana predikatnya mendukung atau membenarkan subjeknya.
Contoh
:
v Semua gajah berbadan besar
v
Semua
ilmuwan adalah orang pandai
b. Proporsisi negatif, yaitu proporsisi
dimana predikatnya menolak atau tidak mendukung subjeknya.
Contoh:
v Tidak ada wanita yang berjenggot
v Tidak ada binatang yang bisa bicara
4)
Proporsisi berdasarkan kuantitas:
a. Proporsisi universal, yaitu
proporsisi dimana predikatnya mendukung atau mengingkari semua.
Contoh
:
v Semua warga Indonesia mememiliki KTP
v Semua masyarakat mematuhi peratura
lalulintas
b. Proporsisi spesifik / khusus, yaitu
proporsisi yang predikatnya membenarkan sebagian subjek.
Contoh
:
v Tidak semua murid patuh kepada
gurunya.
III.
SILOGISME
Silogisme adalah
merupakan suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Dan silofisme itu
di atur dalam dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Kemudian silogisme mempunyai beberapa macam jenisnya, yaitu diantaranya sebagai
berikut.
Jenis-jenis silogisme
1.
Silogisme Katagorial
Silogisme
ini merupakan silogisme dimana semua proporsinya merupakan katagorial. Kemudian
proporsisi yang mengandung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat
dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan
premis minor (premis yang termnya menjadi subjek).
Contoh :
v semua makhluk hidup pasti mati (premis
mayor)
v koala adalah hewan yang dilindungi
(premis minor)
v koala pasti akan mati (konklusi)
2.
Silogisme Hipotetik
Yang
dimaksud dengan silogisme hipotetik itu adalah suatu argumen/pendapat yang
premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah
proposisi katagorik.
Contoh :
5. Apabila lapar saya makan roti (mayor)
6.
Sekarang
lapar (minor)
7. Saya lapar makan roti (konklusi)
3.
Silogisme Alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif itu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya.
Contoh :
v Dimas tinggal di bogor atau surabaya
v Dimas tinggal di surabaya
v Jadi, dimas tidak tinggal di bogor
4.
Entimen
Silogisme
ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam tulisan maupun
lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulannya.
Contoh:
v Jodi berhak mendapatkan peringkat
satu karena dia telah berusaha keras dalam belajar.
v Jodi telah berusaha keras dalam
belajar, karena itu jodi layak mendapatkan peringkat satu.
5.
Silogisme disjungtif
Silogisme
disjungtif merupakan silogisme yang premis mayornya merupakan disjungtif,
sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari
salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor.
Contoh :
v Devan masuk sekolah atau tidak.
(premis 1)
v
Ternyata
devan tidak masuk sekolah. (premis 2)
v Ia tidak masuk sekolah. (konklusi).
SUMBER :
·
Yasyin, Sulchan (2005). Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Penerbit Amanah.
·
Arifin, Zaenal dan Amran Tasai.2004.Cermat
Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi Jakarta:Akademika Pressindo.
Langganan:
Komentar (Atom)