Indonesia Harus Siap “Kalah” di AFTA (ASEAN Free Trade
Area) 2015
AFTA atau masyarakat ekonomi ASEAN sudah di depan
mata, pasar bebas antar Negara-negara ASEAN ini merupakan peluang untuk
mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN yang selanjutnya menjadi
indikator untuk mewujudkan pembangunan ekonomi kawasan tersebut. Indonesia
merupakan salah satu negara yang sangat diperhitungkan dalam ajang kompetisi
ini, karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak
di kawasan asia tenggara. Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat
potensial daan sekaligus menjadi produsen yang mungkin ditakutkan karena
banyaknya industry di Indonesia yang bergerak diberbagai bidang. Singkatnya,
pasar bebas kawasan ASEAN ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi bangsa
Indonesia untuk menunjukkan eksistensinya di kawasan Asia Tenggara secara
ekonomi.
Oleh karena itu, timbul pertanyaan klasik akan kondisi
ekonomi sekarang ini, sudah siapkah Indonesia menghadapi pasar bebas kawasan
asia tenggara ini? Jika tidak bangsa Indonesia harus siap kalah di AFTA.
Namun, apabila melihat pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sekitar
6% per tahun menunjukkan keadaan ekonomi semakin membaik sejak krisis ekonomi
tahun 1997-1998. Hal ini juga terjadi karena pertumbuhan ekonomi daerah yang
semakin berkembang dan banyaknya investor lokal maupun internasional yang telah
berinvestasi di Negara ini. Pertumbuhan ekonomi tidak selalu di ikuti
oleh pembangunan ekonomi yang merata karena pertumbuhan ekonomi dilihat dari
banyaknya barang dan jasa yang diproduksi meningkat dari waktu ke waktu. Namun pada
kesempatan kali ini, saya menyoroti ekonomi Indonesia dari sisi kesiapan
UMKM dalam menghadapi pasar bebas AFTA.
Indonesia merupakan negara yang
pertumbuhan ekonominya tergolong cukup tinggi di dunia sejak terjadinya
krisis ekonomi nasional pada tahun 1997. Pertumbuhannya sekitar 6% per
tahun. Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh pertumbuhan investasi dari dalam
negeri dan luar negeri yang melahirkan berbagai macam jenis usaha dalam
pengelolaan sumber daya yang ada dikandung bumi pertiwi ini. Hal ini juga
tak terkecuali karena berkembang pesatnya Usaha Mikro Kecil Menengah di
Indonesia. Sumbangsih UMKM sangat besar terhadap aktivitas perekonomian di
Indonesia terutama di kota-kota besar dan daerah. Kontribusi segmen UMKM
sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia sangat besar. Saat ini ada 56
juta unit UMKM di Indonesia dan mampu memberikan kesempatan kerja kepada
15 juta orang setiap tahunnya.
Sebagai negara berkembang, sumbangsih UMKM terhadap
pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonominya berasal dari aktivitas
UMKM. Sampai tahun 2011 kontribusi UMKM terhadap PDB adalah sekitar 60% atau
sekitar 4 triliun. Bukan hanya dari segi PDB, kontribusi UMKM juga
terlihat dari besarnya penerapan tenaga kerja di Indonesia. Hingga tahun 2012
UKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lebih kurang 107 juta jiwa atau
sekitar 97,3 %. Pengembangan UKM juga ditujukan untuk mengurangi angka
penganguran dari 7,1 % menjadi 5-6%. Hal yang sama juga diharapkan pada angka
kemiskinan (www.depkop.go.id).
Kondisi UKM secara nasional ini sangatlah menyedihkan
jika tidak dapat bersaing di pasar internasional. Melalui Kementerian Koperasi
dan UKM, pemerintah telah banyak memberikan perhatian terhadap UMKM yang ada.
Namun, kendala yang ada saat ini yang paling banyak ditemukan adalah banyaknya
UMKM yang belum bersentuhan dengan dunia perbankan dan lembaga-lembaga
pembiayaan lainnya. Menurut Ali Yong, Direktur SME dan Wholesale Banking bank
Danamon, Dari sekitar 55 juta unit UKM, baru sekitar 20 juta saja yang memiliki
rekening perbankan (http://www.danamon.co.id).
Hal ini menunjukkan lemahnya UMKM Indonesia dalam memperoleh informasi
perbankan. Padahal lembaga perbankan merupakan lembaga yang sangat
potensial untuk mitra dalam pengembangan usaha. Selain itu, UKM
yang ada didaerah baik perkotaan ataupun yang ada dipedesaan pada hakikatnya
mempunyai kelemahan yang sama yaitu manajemen dan pengelolaan keuanganya
belum maksimal. Laporan keuangan UKM banyak yang tidak dibuat. UKM masih banyak
yang melakukan perhitungan dengan selisih antara pengeluaran dan penerimaan
saja. Oleh karena itu, perhitungan labanya belum jelas. PT Bank Mandiri Tbk
(BMRI) meminta para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) disiplin dalam menyusun
laporan keuangan. Pasalnya, selama ini kebanyakan pelaku UKM tidak punya
laporan keuangan. “UKM-UKM itu belum pada disiplin buat laporan keuangan jadi
masih berantakan, makanya coba disusun laporan keuangan agar penarikan pajaknya
berdasarkan profit. Kalau tidak bias buat laporan keuangan, malas ya resikonya
pajaknya dikenakan berdasarkan omzet,” ujar Direktur Komersial dan Bisnis
Perbankan Mandiri Sunarso saat acara Mandiri Media Training ‘Peluang dan
Tantangan Industri Perbankan 2014,’ di Hotel Santika Yogyakarta, Kamis (21/11/2013)
(www.detikfinance.com)
Adapun UKM yang membuat laporan keuangannya belum memiliki
kesesuaian dengan standar keuangan yang ada. Padahal sangat perlu diketahui
laporan keuangan yang andal dan yang baik merupakan salah satu alat untuk dapat
membuat keputusan bisnis dalam suatu usaha supaya layak untuk dikembangkan atau
dipertahankan. Kondisi UKM tersebut masih dari segi laporan keuangannya saja,
belum lagi model pemasaran yang harus up to date dan strategi produksi yang lebih
efisien dan efektif serta pengelolaan usaha yang tidak merusak lingkungan
hidup. Jika melihat kondisi UMKM yang ada saat ini, kita harus siap
kalah. Jika tidak persiapkan dari sekarang. Karena kemungkinan besar bakal
banyak usaha yang tak mampu untuk bersaing, baik secara modal, produk dan
manajerialnya. Parahnya, Lapangan kerja untuk 107 juta tersebut, akan berkurang
yang menyebabkan penganguran karena UMKM yang gulung tikar. masih ada waktu
untuk berbekal dari sekarang. Pemerintah melalui Kementerian dan koperasi dan
dinas koperasi dan UKM yang ada didaerah masih ada kesempatan untuk membekali
UMKM yang belum memiliki system manajerial yang jelas, belum memiliki laporan
keuangan yang baik dan juga pengelolaan usaha berdasarkan analisis dampak
lingkungan. Pemerintah dapat menggandeng perguruan tinggi, perbankan, dan
lembaga-lembaga lainya yang bersentuhan dengan UMKM untuk mengadakan pelatihan
dan workshop. Sehingga, UMKM kita layak dan gagah untuk dapat bersaing
secara sehat di AFTA, Indonesia jaya untuk menuju kawasan ASEAN yang lebih
sejahtera dan mandiri ekonomi. Sukses untuk UMKM Indonesia.
SUMBER :
Ekonomi.kompasiana.com