Minggu, 28 September 2014

Artikel Softskill II

Indonesia Harus Siap “Kalah” di AFTA (ASEAN Free Trade Area) 2015


AFTA  atau masyarakat ekonomi ASEAN sudah di depan mata, pasar bebas antar Negara-negara ASEAN ini merupakan peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan ASEAN yang selanjutnya menjadi indikator untuk mewujudkan pembangunan ekonomi   kawasan tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat diperhitungkan dalam ajang kompetisi ini, karena  Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di kawasan asia tenggara.  Indonesia merupakan pangsa pasar yang sangat potensial daan sekaligus menjadi produsen yang mungkin ditakutkan karena banyaknya industry di Indonesia yang bergerak diberbagai bidang. Singkatnya, pasar bebas kawasan ASEAN ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia  untuk menunjukkan eksistensinya di kawasan Asia Tenggara secara ekonomi.
Oleh karena itu, timbul pertanyaan klasik akan kondisi ekonomi sekarang ini, sudah siapkah Indonesia menghadapi pasar bebas kawasan asia tenggara ini?  Jika tidak bangsa Indonesia harus siap kalah di AFTA.  Namun, apabila  melihat pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sekitar 6% per tahun menunjukkan keadaan ekonomi semakin membaik sejak krisis ekonomi tahun 1997-1998. Hal ini juga terjadi karena pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin berkembang dan banyaknya investor lokal maupun internasional yang telah berinvestasi di Negara ini.  Pertumbuhan ekonomi tidak selalu di ikuti oleh pembangunan ekonomi yang merata karena pertumbuhan ekonomi dilihat dari banyaknya barang dan jasa yang diproduksi meningkat dari waktu ke waktu. Namun pada kesempatan kali ini, saya menyoroti  ekonomi Indonesia dari sisi kesiapan UMKM dalam menghadapi pasar bebas AFTA.
Indonesia  merupakan negara  yang  pertumbuhan ekonominya tergolong  cukup tinggi di dunia sejak terjadinya krisis ekonomi nasional pada tahun 1997. Pertumbuhannya sekitar  6% per tahun. Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh pertumbuhan investasi dari dalam negeri dan luar negeri yang melahirkan berbagai macam jenis usaha dalam pengelolaan sumber daya yang ada dikandung bumi pertiwi ini.  Hal ini juga tak terkecuali karena berkembang pesatnya Usaha Mikro Kecil Menengah di Indonesia. Sumbangsih UMKM sangat besar terhadap aktivitas perekonomian di Indonesia terutama di kota-kota besar dan daerah.  Kontribusi segmen UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia sangat besar. Saat ini ada 56 juta unit UMKM di Indonesia dan  mampu memberikan kesempatan kerja kepada 15 juta orang setiap tahunnya.
Sebagai negara berkembang, sumbangsih UMKM terhadap pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonominya  berasal dari aktivitas UMKM. Sampai tahun 2011 kontribusi UMKM terhadap PDB adalah sekitar 60% atau sekitar 4 triliun.  Bukan hanya dari segi PDB, kontribusi UMKM juga terlihat dari besarnya penerapan tenaga kerja di Indonesia. Hingga tahun 2012 UKM mampu menyerap tenaga kerja sebanyak lebih kurang 107 juta jiwa atau sekitar 97,3 %. Pengembangan UKM juga ditujukan untuk mengurangi angka penganguran dari 7,1 % menjadi 5-6%. Hal yang sama juga diharapkan pada angka kemiskinan (www.depkop.go.id).
Kondisi UKM secara nasional ini sangatlah menyedihkan jika tidak dapat bersaing di pasar internasional. Melalui Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah telah banyak memberikan perhatian terhadap UMKM yang ada. Namun, kendala yang ada saat ini yang paling banyak ditemukan adalah banyaknya UMKM yang belum bersentuhan dengan dunia perbankan dan lembaga-lembaga pembiayaan lainnya. Menurut Ali Yong, Direktur SME dan Wholesale Banking bank Danamon, Dari sekitar 55 juta unit UKM, baru sekitar 20 juta saja yang memiliki rekening perbankan (http://www.danamon.co.id). Hal ini menunjukkan lemahnya UMKM Indonesia dalam memperoleh informasi perbankan. Padahal lembaga perbankan merupakan lembaga yang  sangat potensial untuk mitra dalam pengembangan usaha.   Selain itu, UKM yang ada didaerah baik perkotaan ataupun yang ada dipedesaan pada hakikatnya mempunyai kelemahan yang sama yaitu  manajemen dan pengelolaan keuanganya belum maksimal. Laporan keuangan UKM banyak yang tidak dibuat. UKM masih banyak yang melakukan perhitungan dengan selisih antara pengeluaran dan penerimaan saja. Oleh karena itu, perhitungan labanya belum jelas. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) meminta para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) disiplin dalam menyusun laporan keuangan. Pasalnya, selama ini kebanyakan pelaku UKM tidak punya laporan keuangan. “UKM-UKM itu belum pada disiplin buat laporan keuangan jadi masih berantakan, makanya coba disusun laporan keuangan agar penarikan pajaknya berdasarkan profit. Kalau tidak bias buat laporan keuangan, malas ya resikonya pajaknya dikenakan berdasarkan omzet,” ujar Direktur Komersial dan Bisnis Perbankan Mandiri Sunarso saat acara Mandiri Media Training ‘Peluang dan Tantangan Industri Perbankan 2014,’ di Hotel Santika Yogyakarta, Kamis (21/11/2013) (www.detikfinance.com)
Adapun UKM yang membuat laporan keuangannya belum memiliki kesesuaian dengan standar keuangan yang ada. Padahal sangat perlu diketahui laporan keuangan yang andal dan yang baik merupakan salah satu alat untuk dapat membuat keputusan bisnis dalam suatu usaha supaya layak untuk dikembangkan atau dipertahankan. Kondisi UKM tersebut masih dari segi laporan keuangannya saja, belum lagi model pemasaran yang harus up to date dan strategi produksi yang lebih efisien dan efektif serta pengelolaan usaha yang tidak merusak lingkungan hidup.  Jika melihat kondisi UMKM yang ada saat ini, kita harus siap kalah. Jika tidak persiapkan dari sekarang. Karena kemungkinan besar bakal banyak usaha yang tak mampu untuk bersaing, baik secara modal, produk dan manajerialnya. Parahnya, Lapangan kerja untuk 107 juta tersebut, akan berkurang yang menyebabkan penganguran karena UMKM yang gulung tikar. masih ada waktu untuk berbekal dari sekarang. Pemerintah melalui Kementerian dan koperasi dan dinas koperasi dan UKM yang ada didaerah masih ada kesempatan untuk membekali UMKM yang belum memiliki system manajerial yang jelas, belum memiliki laporan keuangan yang baik dan juga pengelolaan usaha berdasarkan  analisis dampak lingkungan. Pemerintah dapat menggandeng perguruan tinggi, perbankan, dan lembaga-lembaga lainya yang bersentuhan dengan UMKM untuk mengadakan pelatihan dan workshop. Sehingga, UMKM kita layak dan gagah untuk  dapat bersaing secara sehat di AFTA, Indonesia jaya untuk menuju kawasan ASEAN yang lebih sejahtera dan mandiri ekonomi. Sukses untuk UMKM Indonesia.

SUMBER :

Ekonomi.kompasiana.com

Tugas Softskill II

Segmentasi Pasar
1.     Segmentasi Pasar dan Kepuasan Konsumen
Segmentasi pasar adalah pengelompokkan pasar menjadi kelompok‐kelompok konsumen yang homogen, dimana tiap kelompok (bagian) dapat dipilih sebagai pasar yang ditargetkan untuk pemasaran suatu produk.

Berikut ini definisi dari Segmentasi Pasar menurut beberapa ahli, diantaranya:
a.      Swastha & Handoko (1997)
Memberi pengertian bahwa segmentasi pasar sebagai kegiatan membagi–bagi pasar/market yang bersifat heterogen kedalam satuan–satuan pasar yang bersifat homogen.
b.      Pride & Ferrel (1995)
Mengatakan bahwa segmentasi pasar adalah suatu proses membagi pasar ke dalam segmen‐segmen pelanggan potensial dengan kesamaan karakteristik yang menunjukkan adanya kesamaan perilaku pembeli dan sebagai suatu proses pembagian pasar keseluruhan menjadi kelompok‐kelompok pasar yang terdiri dari orang‐orang yang secara relatif memiliki kebutuhan produk yang serupa.

Mengingat luasnya pasar, maka kegiatan segmentasi pasar harus dilakukan dengan maksud dan tujuan sebagai berikut:
·                 Pasar lebih mudah dibedakan
·                 Pelayanan kepada pembeli menjadi lebih baik
·                 Strategi pemasaran menjadi lebih mengarah

Kepuasan konsumen terbagi menjadi 2, yaitu:

a.      Kepuasan Fungsional
merupakan kepuasan yang diperoleh dari fungsi atau pemakaian suatu produk.
Misalnya : kita meminum suatu produk untuk menghilangkan rasa dahaga.
b.      Kepuasan Psikologikal,
merupakan kepuasan yang diperoleh dari atribut yang bersifat tidak berwujud.
Misalnya : Perasaan bangga karena mendapat pelayanan yang sangat istimewa dari sebuah restoran yang mewah.
Pengelompokan inilah yang sering kita dengar sebagai segmentasi pelanggan. Segmentasi ini mutlak dilakukan secara bervariasi. Dapat di bagi beberapa segmen berdasarkan :
·                 letak geografis
·                 volume pembelian demografis
·                 produk yang dibeli
·                 sesuai kebutuhan konsumen
·         Pada umumnya tiap segmen adalah unik dan juga memberi kontribusi yang berbeda terhadap organisasi.

2.     Segmentasi dan Profitabilitas

Ada beberapa syarat segmentasi yang efektif, yaitu:
o   Dapat diukur.
o   Dapat dicapai.
o   Cukup besar atau cukup menguntungkan.
o   Dapat dibedakan.
o   Dapat dilaksanakan.

Profitabilitas adalah kemampuan perseroan untuk menghasilkan suatu keuntungan dan menyokong pertumbuhan baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Profitabilitas perseroan biasanya dilihat dari laporan laba rugi perseroan (income statement) yang menunjukkan laporan hasil kinerja perseroan.

3.     Penggunaan Segmentasi dalam Strategi Pemasaran

Agar segmen pasar dapat bermanfaat maka harus memenuhi beberapa karakteristik, diantaranya:
o      Measurable, yaitu ukuran, daya beli, dan profil segmen harus dapat diukur meskipun ada beberapa variabel yang sulit diukur.
o      Accessible, yaitu segmen pasar harus dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
o      Substantial, yaitu segmen pasar harus cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani
o      Differentiable, yaitu segmen‐segmen dapat dipisahkan secara konseptual dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap elemen‐elemen dan bauran pemasaran yang berbeda.
o      Actionable, yaitu program yang efektif dapat dibuat untuk menarik dan melayani segmen‐segmen yang bersangkutan.
o      Langkah dalam mengembangkan segmentasi, yaitu:
o      Mensegmen pasar menggunakan variabel‐variabel permintaan, seperti kebutuhan konsumen, manfaat yang dicari, dan situasi pemakaian.
o      Mendeskripsikan segmen pasar yang diidentifikasikan dengan menggunakan variabel‐variabel yang dapat membantu perusahaan memahami cara melayani kebutuhan konsumen tersebut dan cara berkomunikasi dengan konsumen.

4.     Rencana Perubahan

A.     Analisis konsumen dan Kebijakan Sosial

Analisis konsumen berguna untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di dalamnya. Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai tahapan‐tahapan sebagai berikut:
v   Analisis Kebutuhan. Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa perusahaan lewat media massa, brosur, dan lain‐lain.

v   Pencarian Informasi. Setelah kebutuhan itu dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi kebutuhannya.

v   Evaluasi Alternatif. Konsumen kemudian mengadakan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.

v   Keputusan Pembelian. Konsumen memutuskan untuk membeli merek tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.

v   Sikap Paska Pembelian. Sikap paska pembelian menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa tersebut atau tidak.


Analisis Kebijakan Sosial

Analisis kebijakan (policy analysis) dapat dibedakan dengan pembuatan atau pengembangan kebijakan (policy development). Analisis kebijakan tidak mencakup pembuatan proposal perumusan kebijakan yang akan datang. Analisis kebijakan lebih menekankan pada penelaahan kebijakn yang sudah ada. Sementara itu, pengembangan kebijakan lebih difokuskan pada proses pembuatan proposal perumusan kebijakan yang baru. Namun demikian, baik analisis kebijakan maupun pengembangan kebijakan keduanya memfokuskan pada konsekuensi‐konsekuensi kebijakan. Analisis kebijakan mengkaji kebijakan yang telah berjalan, sedangkan pengembangan kebijakan memberikan petunjuk bagi pembuatan atau perumusan kebijakan yang baru. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa analisis kebijakan sosial adalah usaha terencana yang berkaitan dengan pemberian penjelasan (explanation) dan preskripsi atau rekomendasi (prescription or recommendation) terhadap konsekuensi‐konsekuensi kebijakan sosial yang telah diterapkan. Penelaahan terhadap kebijakan sosial tersebut didasari oleh oleh prinsip‐prinsip umum yang dibuat berdasarkan pilihan‐pilihan tindakan sebagai berikut:
o      Penelitian dan rasionalisasi yang dilakukan untuk menjamin keilmiahan dari analisis yang dilakukan.
o      Orientasi nilai yang dijadikan patokan atau kriteria untuk menilai kebijakan sosial tersebut berdasarkan nilai benar dan salah.
o      Pertimbangan politik yang umumnya dijadikan landasan untuk menjamin keamanan dan stabilitas.

B.     Perubahan Struktur Pasar Konsumen
a.      Pasar Persaingan Sempurna
Jenis pasar persaingan sempurna terjadi ketika jumlah produsen sangat banyak sekali dengan memproduksi produk yang sejenis dan mirip dengan jumlah konsumen yang banyak. Contoh produknya adalah seperti beras, gandum, batubara, kentang, dan lain‐lain.
Sifat‐sifat pasar persaingan sempurna :
·         Jumlah penjual dan pembeli banyak
·         Barang yang dijual sejenis, serupa dan mirip satu sama lain
·         Penjual bersifat pengambil harga (price taker)
·         Harga ditentukan mekanisme pasar permintaan dan penawaran (demand and supply)
·         Posisi tawar konsumen kuat
·         Sulit memperoleh keuntungan di atas rata‐rata
·         Sensitif terhadap perubahan harga
·         Mudah untuk masuk dan keluar dari pasar

b.      Pasar Monopolistik
Struktur pasar monopolistik terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun di mana konsumen produk tersebut berbeda‐beda antara produsen yang satu dengan yang lain. Contoh produknya adalah seperti makanan ringan (snack), nasi goreng, pulpen, buku, dan sebagainya.
Sifat‐sifat pasar monopolistik :
·         Untuk unggul diperlukan keunggulan bersaing yang berbeda
·         Mirip dengan pasar persaingan sempurna
·         Brand yang menjadi ciri khas produk berbeda‐beda
·         Produsen atau penjual hanya memiliki sedikit kekuatan merubah harga
·         Relatif mudah keluar masuk pasar


c.       Pasar Oligopoli
Pasar oligopoli adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Contoh industri yang termasuk oligopoli adalah industri semen di Indonesia, industri mobil di Amerika Serikat, dan sebagainya.
Sifat‐sifat pasar oligopoli :
·         Harga produk yang dijual relatif sama
·         Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses
·         Sulit masuk ke pasar karena butuh sumber daya yang besar
·         Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain

d.      Pasar Monopoli
Pasar monopoli akan terjadi jika di dalam pasar konsumen hanya terdiri dari satu produsen atau penjual. Contohnya seperti microsoft windows, perusahaan listrik negara (pln), perusahaan kereta api (perumka), dan lain sebagainya.
Sifat‐sifat pasar monopoli :
·         Hanya terdapat satu penjual atau produsen

·         Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli


SUMBER :
http://www.scribd.com/doc/186041185/Segmentasi-Pasar-Dan-Analisis-Demografis#download

Sabtu, 27 September 2014

Artikel Softskill I

Sabtu, 25/10/2014 14:22 WIB
Kualifikasi MotoGP Malaysia
Jadi Pebalap Tercepat, Marquez Raih Pole Position
Rossi Finza Noor - detikSport

Sepang - Marc Marquez jadi pebalap tercepat di sesi kualifikasi MotoGP Malaysia. Dengan demikian, pebalap Honda asal Spanyol itu meraih pole position,mengungguli rekan satu timnya, Dani Pedrosa, yang ada di posisi kedua.

Dalam sesi yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Sabtu (25/10), Marquez menorehkan catatan waktu 1:59,791 detik untuk memastikan diri start dari urutan terdepan. Dengan demikian, Marquez telah menorehkan catatan 13 pole sepanjang musim 2014 ini. Terakhir kali dia start pada posisi terdepan adalah pada balapan MotoGP Australia akhir pekan lalu.

Sedangkan Pedrosa menorehkan catatan waktu 1:59,973 detik atau berselisih 0,182 detik di belakang catatan waktu Marquez. Pebalap Yamaha, Jorge Lorenzo, berada di posisi ketiga setelah menorehkan catatan waktu 2:0,203 detik.

Stefan Bradl yang menorehkan catatan waktu 2:0,472 detik dan Andrea Dovizioso yang mencatat waktu 2:0,703 detik melengkapi posisi lima besar. Sementara rekan satu tim Lorenzo, Valentino Rossi, ada di posisi keenam dengan catatan waktu 2:0,740 detik.

Hasil Kualifikasi MotoGP Malaysia
 1. Marc Marquez - Repsol Honda Team (RC213V) 1:59,791
 2. Dani Pedrosa - Repsol Honda Team (RC213V) 1:59,973 (+0,182)
 3. Jorge Lorenzo - Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1) 2:0,203 (+0,412)
 4. Stefan Bradl - LCR Honda MotoGP (RC213V) 2:0,472 (+0,681)
 5. Andrea Dovizioso - Ducati Team (Desmosedici) 2:0,703 (+0,912)
 6. Valentino Rossi - Movistar Yamaha MotoGP (YZR-M1) 2:0,740 (+0,949)
 7. Aleix Espargaro - NGM Forward Racing (Forward Yamaha) 2:0,801 (+1,010)
 8. Cal Crutchlow - Ducati Team (Desmosedici) 2:1,119 (+1,328)
 9. Bradley Smith - Monster Yamaha Tech 3 (YZR-M1) 2:1,263 (+1,472)
 10. Alvaro Bautista - Go&Fun Honda Gresini (RC213V) 2:2,294 (+2,503)
 11. Hiroshi Aoyama - Drive M7 Aspar (RCV1000R) 2:10,568 (+10,777)

Sumber :
www.sport.detik.com

Tugas Softskill I

Perilaku Konsumen

1. Definisi Perilaku Konsumen
    Menurut Engel, Blackwell dan Miniard (1990), perilaku konsumen diartikan “…. Those actions directly involved in obtaining, consuming, and disposing of products and services, including the decision processes that precede and follow this action”. 
“Perilaku konsumen merupakan tindakan–tindakan yang terlibat secara langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi, dan membuang suatu produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti tindakan – tindakan tersebut.”  
    Sedangkan menurut Mowen (1995), “ Consumer behavior is defined as the study of the buying units and the exchange processes involved in acquiring, consume, disposing of goods, services, experiences, and ideas” 
“Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001)”. 
    Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu.Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi (Hanna & Wozniak, 2001). 

2. Pemikiran yang Benar Tentang Konsumen 
  • Konsumen adalah RAJA
  • Motivasi dan perilaku konsumen dapat dimengerti melalui penelitian.
  • Perilaku konsumen dapat dipengaruhi melalui kegiatan persuasif yang menghadapi konsumen secara serius sebagai pihak yang berkuasa dan dengan maksud tertentu.
  • Bujukkan dan pengaruh konsumen memiliki hasil yang menguntungkan secara sosial asalkan pengamanan hukum, etika, dan moral berada pada tempatnya untuk mengekang upaya manipulasi. 

    Bila ke empat premis ini diabaikan, konsekuensinya hampir selalu negatif. Kami memberikan contoh dari hasil pemikiran yang benar maupun yang salah mengenai konsumen. Kami lebih jauh mendemonstrasikan bahwa penelitian konsumen, bila ditanggapi dan ditafsirkan dengan benar, memberikan masukan yang esensial untuk strategi pemasaran yang baik dalam organisasi yang mencari laba maupun yang tidak mencari laba. Akhirnya, penelitian juga berfungsi sebagai basis untuk pendidikan dan perlindungan konsumen, dan melengkapi informasi yang penting untuk keputusan kebijakkan umum. 

3. Penelitian Konsumen Sebagai Suatu Bidang yang Dinamis 
    Kurangnya perhatian terhadap penelitian konsumen sudah disadari sejak dahalu. Hal ini terlihat dari para pemasar yang lebih memfokuskan pada bagaimana caranya memasarkan produknya.Para pemasar kurang memperhatikan bagaimana sebenarnya reaksi dari konsumen yang rnengkonsti produk tersebut. Bila konsumen merasa tertarik pada suatu produk secara teliti konsumen hanya dapat mengkonsumsi produk tersebut tanpa dapat diberikan tanggapan yang dirasakannya dari produk tersebut. 
    Sudah banyak perusahaan-perusahaan yang menunjukkan keinginannya untuk mengetahui tidak hanya sejauh-mana kebutuhan konsumen, akan tetapi juga bagaimana tanggapannya akan produk yang dikonsumsinya yang berarti berhubungan dengan kepuasan konsumen. Perusahaan mulai kritis Mengenali tingkah laku konsumen akan suatu produk. Mereka mulai banyak melakukan penelitian yang dapat membantu mereka untuk mengetahui keinginan, kebutuhan sekaligus dengan kepuasan konsumen tersebut. Perusahaan melakukan berbagai macam riset dengan melihat dari berbagai macam faktor yang akan timbul. 

Penelitian eksplorasi tidak direncai-iakaii untuk menyimpulkai-i jawaban dalam meneliti pertanyaan yang diberikan oleh konsumen. Oleh karena itu, penelitian mengenai kesimpulan konsumen terhadap suatu produk, kesimpulan konsumen dapat merek, dan pelayanan itu penting juga digunakan untuk mengkaji dalam mengidentifikasikan apa yang mempengaruhi konsumen. 

Sumber :